Lelaki Penabur Janji

smoking man

Lelaki itu kini hanya menghabiskan waktu dengan duduk termenung, menatapi rimbunnya dedaunan di halaman belakang. Berteman kepulan asap rokok yang hampir menyelimuti wajahnya, sesekali suara batuk menghentikan gerakan jarinya yang mengepit sebatang rajangan tembakau bersalut kertas, agar tak segera menjejalkan di antara bibir gelapnya. Sorot tajam mata cekung itu kini berubah sayu dan kosong. Sesekali jemari tangan kiri menyapu butiran air yang hendak bergulir, agar tak terlanjur meluncur menghujani pipi. Sejak kepergian ibu, lelaki yang kukenal gahar itu kini berubah layu. Continue reading “Lelaki Penabur Janji”

Advertisements

Sebuah Episode Buram

bak1.jpg
poskotanews.com

Ricky terpekur menatapi dinginnya lantai penjara, dikelilingi dinding dan jeruji besi yang angkuh berdiri. Sejak semalam hotel prodeo menjadi tempatnya menghabiskan waktu. Suara letusan senjata api, diikuti oleh erangan seorang lelaki yang tersungkur bersimbah darah  terus terlintas di benaknya, sekuat apapun Ricky coba pejamkan mata, gambaran peristiwa itu tak mau pergi. Silih berganti dengan wajah ibu dan bapak  yang selama ini selalu bangga akan dirinya. Rasa bersalah terus menggelayuti batin, dalam do’a Ricky berharap lelaki itu akan baik-baik saja. Dan ibu bapak mau memaafkan dirinya. Continue reading “Sebuah Episode Buram”

Surti dan Tejo

rumah_sawah_by_judyoplasma_1
Judyoplasma.devianart.com

Kertas biru itu melekat erat dalam dekapan Surti. Rasa bahagia membubung memenuhi dada hingga ke ubun-ubun, sepucuk surat dari Jakarta; dari sang arjuna tercinta, yang mengabarkan bahwa dirinya akan segera pulang ke desa di akhir bulan ini. Itu artinya hanya tinggal tujuh hari lagi. Ya… hanya tujuh hari lagi. Berulang kali Surti membaca lembar biru itu, sekedar untuk memastikan agar dia tak salah memperkirakan hari pertemuannya dengan sang arjuna nanti. Continue reading “Surti dan Tejo”