smoking man

Lelaki itu kini hanya menghabiskan waktu dengan duduk termenung, menatapi rimbunnya dedaunan di halaman belakang. Berteman kepulan asap rokok yang hampir menyelimuti wajahnya, sesekali suara batuk menghentikan gerakan jarinya yang mengepit sebatang rajangan tembakau bersalut kertas, agar tak segera menjejalkan di antara bibir gelapnya. Sorot tajam mata cekung itu kini berubah sayu dan kosong. Sesekali jemari tangan kiri menyapu butiran air yang hendak bergulir, agar tak terlanjur meluncur menghujani pipi. Sejak kepergian ibu, lelaki yang kukenal gahar itu kini berubah layu.

Setelah pemakaman selesai, satu persatu para pengantar jenazah berlalu, meninggalkan ibu yang kini terbaring di balik gundukan tanah basah bertabur warna warni bunga. Namun lelaki itu bergeming, dengan cucuran air mata yang tak kunjung reda, dia bersimpuh di samping makam ibu. Kami harus membujuknya dengan bersusah payah demi mengajaknya pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan pulang lelaki 67 tahun itu hanya terdiam, melempar pandangannya ke luar jendela, berusaha sembunyikan mendung kelabu yang menjelma aliran sungai di pipinya yang telah berhias keriput.

Satu minggu kemudian, kami mulai membenahi lemari milik ibu. Tak banyak helai pakaian yang mengisi lemarinya, ibu memang bukan tipe wanita penggila belanja, dia begitu sederhana. Maka tak heran jika hanya ada beberapa saja pakaian ibu yang masih terbilang bagus, sehingga layak diberikan pada orang lain.Selebihnya adalah pakaian rumah, dengan keadaan yang cukup lusuh karena warnanya yang sudah pudar. Hingga seluruh pakaian ibu kami keluarkan, nampaklah sebuah buku bersampul biru tersimpan di sana, dibawah tumpukan pakaian yang sebelumnya tertata di atasnya.

Kami membukanya, lembar demi lembar. Membaca rangkaian kata yang tergores di sana. Sebuah buku yang selama ini menjadi tempat ibu berbagi cerita. Buku yang selama ini menjadi tempat ibu mengadu. Ada jejak air mata di sana. Buku itu sarat duka. Ayah terisak, diraihnya buku itu dalam dekapan.

“Maafkan ayah, bu… maafkan ayah…” tangisnya pecah, dengan buku biru milik ibu lekat di dekapan.

Aku bingung, tak mampu berkata-kata, selama ini ibu yang menjadi penghubung komunikasiku dengan ayah. Tak pernah mudah bagiku untuk berbicara dengannya. Sejak kecil diri ini selalu salah di matanya. Apapun kata yang kusampaikan selalu berakhir pertengkaran. Inilah kali pertama kulihat lelaki itu tampak begitu rapuh. Segala kesombongan yang selama ini begitu kuat membentengi dirinya luluh lantak. Mataku menghangat, bukan… bukan karena merasa kasihan pada lelaki yang tengah sesenggukan di hadapanku, aku tak perduli bahkan jika dia menangis darah sekalipun.

Aku teringat ibu, aku rindu wanita yang selama ini selalu menjadi pelipurku, dikala hatiku hancur oleh maki dan sumpah serapah sosok yang kupanggil ayah. Ibulah yang akan meraih satu persatu kepingan hati itu, untuk kemudian kembali menata dan menyatukannya dengan cinta. Merapalkan mantra penguat jiwa, hingga aku dapat kembali tertawa.

Ketika tangan lelaki itu terangkat siap mendarat di tubuhku, ibu akan gagah berdiri menjadi tameng demi melindungiku. Dan dapat dipastikan, jika sudah begitu ayah akan mengurungkan niatnya menghajarku. Berganti dengan sumpah serapah, dan kata-kata penuh karat yang ditikamkannya pada aku dan ibu. Hingga usiaku beranjak remaja, ibu masih lakukan itu. Bukan karena aku tak mampu membela diri, tapi ibu tak mau tanganku menjadi jalan diri ini menjadi durhaka.

“Ibu, mengapa dirimu mesti bersanding dengan lelaki seperti itu?” maka selalu jawabmu, “karena Allah ingin hadiahkan kamu untuk ibu.” Senyum dan tawa ceria selalu menghiasi wajahmu, begitu hebatnya kau sembunyikan duka di hatimu. Kau terus bertahan, dengan luka-luka di sekujur hatimu. Luka yang kian menganga dan tak pernah terobati, hingga akhirnya denyut cinta pada lelaki penabur janji itu mati sama sekali. Seperti yang kau tulis dalam lembar buku birumu.

Ibu, lihatlah… lelaki angkuh itu kini begitu rapuh tanpamu. Lihatlah, betapa dia habiskan sisa harinya dalam penyesalan tak berujung atas kepiawaiannya menorehkan luka di hatimu. Aku tak mengerti, sungguh-sungguh tak mengerti. Bukankah dulu kerap kau sampaikan padanya, tentang segala apa yang kau rasa? tentang harapan-harapanmu dalam menghabiskan usia bersamanya? namun hanya janji palsu yang dia berikan padamu, sekedar tuk lambungkan anganmu sesaat, bermimpi raih bahagia yang kau damba, untuk kemudian kau kembali kecewa.

Ibu, dengarlah… tangisnya saat ini terdengar begitu pilu. Lebih pilu daripada saat dia menghibamu untuk tak meninggalkannya waktu itu. Tak ada janji yang terucap dari bibirnya, tentu saja, karena apapun yang diucapkannya kini takan mampu kembalikan dirimu. Ibu, sepertinya dia sungguh-sungguh mencintaimu, namun sayangnya dia tak pernah mau berpayah membuatmu merasakan itu.

Do’aku untukmu bu…. berbahagialah di sana, raihlah bahagia sejatimu. Kembali dalam dekapan cinta pemilik sejatimu.

Advertisements

4 thoughts on “Lelaki Penabur Janji

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s