Rumah sakit bukan tempat yang menyenangkan untuk dikunjungi, terutama ruang ICU dan semacamnya. Atmosfernya yang dingin menyusup ke dalam batin, hingga rasaku menggigil. Membuka kotak kenangan yang tersimpan di dalam hati, menarik gambar duka itu satu persatu, kembali di hadapanku. Wajah-wajah mendung, dan beberapa berhias air mata tampak di hadapan, hadirkan buncahan rasa tak menentu di dalam hati. Sesuatu yang hangat mendesak kelopak mata dan akhirnya bergulir melalui sudut mata ini. Rasa yang sama dirasakan sahabatku. Episode duka seketika berputar kembali di benak kami.
Dan kami pun memutuskan untuk menunggu saja hingga jam besuk berakhir, tak perlu masuk ke ruangan itu. Lagipula, kami paham betul, yang dibutuhkan bocah kecil itu saat ini adalah kehadiran ayah bunda di sampingnya. Karena kehangatan getar cinta ayah bundalah yang akan mampu menembus hatinya, menjadi sumber kekuatan untuk bertahan bahkan melawan penyakit yang tengah menggerogoti tubuhnya. Walau tubuh itu kini terbaring lemah dengan mata terpejam.

Ya, aku bersama seorang sahabat pada hari Selasa lalu mengunjungi teman sekolah kami yang tengah menghadapi sebuah ujian besar.Buah hatinya yang baru berusia lima tahun harus masuk ruang PICU setelah sebelumnya hilang kesadaran di ruang perawatan.

Sudah satu tahun ini tumor tumbuh dan bersemayam di kepala bocah kecil itu, tepat di bagian otaknya. Operasi adalah solusi medis yang ditawarkan sang dokter. Namun mendengar penjelasan tim dokter mengenai besarnya berbagai resiko dan dampak dari operasi itu sendiri, yang bisa dikatakan peluang keberhasilannya hanya 50:50. Itu membuat temanku dan suaminya berpikir dua kali untuk memilih operasi sebagai solusi, akhirnya pengobatan herbal menjadi pilihan mereka.

Sejauh ini perkembangan sulung kesayangannya berjalan cukup baik, walaupun kunjungan ke dokter dan rumah sakit harus menjadi agenda rutin setiap bulan. Dan semua mereka jalani dengan asa selalu dalam genggaman. Hingga hari itu, tiba-tiba putra kesayangan hilang kesadaran.Ternyata tumor itu terus tumbuh membesar, dan saat ini telah mencapai diameter 5cm.

Mendung bergelayut di wajah sang ibu, tangisnya pecah saat kami berpelukan. Pedih itu menembus hingga ke dalam hatiku. Aku tahu, sekuat apapun bongkahan hati seorang ibu, akan hancur saat melihat buah hati tengah menderita.

Ya, anak hanyalah titipan, sesungguhnya Allah lah Sang Pemilik sejati. Setiap hamba akan diuji dengan kecintaannya sebagai ujian keimanan. Begitupun temanku, dia menyadari semua itu. Dia ikhlas menjalani kepedihan ini, ikhlas untuk apapun ketetapan Allah atas putranya. Walaupun untuk ikhlas membutuhkan upaya dan perjuangan yang besar, tak semudah mengucapkannya. Namun sebagai seorang hamba, juga sebagai seorang ibu, dia pun tak pernah lelah memohon kesempatan untuk dapat merawat buah hati kesayangan hingga dewasa nanti. Semoga saja Allah meridhoi.

Dan hari ini, sebuah keputusan besar yang sangat sulit akhirnya harus diputuskan. Pukul 08.00 pagi tadi putra tercinta masuk ruang operasi untuk menjalani 2x operasi besar. Semoga ini akan menjadi jalan kesembuhan bagi Rifqi, si buah hati. Semoga Rifqi kuat, dan operasi berjalan lancar. Semoga temanku beserta suami, dan keluarga besarnya diberi kekuatan dan kesabaran dalam menjalani ujian ini. Aamiin…

Teman… Allah telah memilihmu untuk menjalani ujian berat ini, tentunya karena Allah sangat tahu kekuatan sebenarnya yang ada dalam dirimu dan suamimu. Tetaplah yakin, bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Yakinilah ujian ini sebagai bentuk kecintaaNya padamu, dan keluargamu.

Do’a terbaikku untukmu teman….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s