bak1.jpg
poskotanews.com

Ricky terpekur menatapi dinginnya lantai penjara, dikelilingi dinding dan jeruji besi yang angkuh berdiri. Sejak semalam hotel prodeo menjadi tempatnya menghabiskan waktu. Suara letusan senjata api, diikuti oleh erangan seorang lelaki yang tersungkur bersimbah darah  terus terlintas di benaknya, sekuat apapun Ricky coba pejamkan mata, gambaran peristiwa itu tak mau pergi. Silih berganti dengan wajah ibu dan bapak  yang selama ini selalu bangga akan dirinya. Rasa bersalah terus menggelayuti batin, dalam do’a Ricky berharap lelaki itu akan baik-baik saja. Dan ibu bapak mau memaafkan dirinya.

Malam itu sebuah motor dengan knalpot bising menarik perhatian Ricky dan teman-temannya. Hanya dengan saling berpandangan seolah mereka langsung sepakat bergerak dan menjadikan motor tersebut sebagai target mereka malam itu. Kejar-kejaran  terjadi, setelah motor yang dinaiki Ricky  serta motor Gopal berhasil menyusul, Polenk yang berada di atas boncengan Gopal menendang untuk melumpuhkan motor itu. Motor pun hilang keseimbangan, dan terjatuh bersama si pengendaranya.

Polenk segera turun untuk mengambil alih motor si korban, namun rupanya korban tidak mau begitu saja menyerahkan motornya. Dia melakukan perlawanan. Sebuah badik yang diarahkan Polenk berhasil ditangkis dan melukai lengannya, namun dia pantang menyerah. Eron turun dari boncengan Ricky untuk membantu Polenk mengatasi masalah. Namun raungan sirine yang terdengar samar-samar dari kejauhan, membuat mereka mulai panik. Demi mempersingkat waktu, tangan kanan Ricky mencabut pistol yang terselip di pinggang dan mengarahkannya pada lelaki yang telah terluka itu. Suara letusan terdengar, lelaki itu roboh. Namun Ricky masih sempat mendengar suara lirihnya, “Jangan bang, bukan motor saya….” Sesaat kemudian Ricky dan Gopal tancap gas, diikuti Polenk dan Eron yang dengan cekatan mengambil alih motor lelaki yang telah terkapar itu, membelah jalanan di gelapnya malam, dalam buaian pengaruh alkohol dan obat terlarang.

Pertemuan dengan Eron teman SMPnya menjadi awal Ricky bergabung menjadi anggota geng. Bukan Ricky tidak mengerti tentang aksi kriminal yang kerap dilakukan para anggota geng motor itu. Namun rasa jenuh dipandang sebelah mata oleh orang-orang di sekitar, atas statusnya sebagai pemuda pengangguran dari keluarga ekonomi kelas bawah, akhirnya membuat Ricky mantap memutuskan untuk menjadi bagian dari kumpulan pemuda yang kerap menjadi buah bibir dan dibenci aparat serta warga, termasuk ibu dan bapaknya.

Sejak lulus SMA Ricky hanya menganggur. Penghasilan bapak sebagai buruh kecil pada sebuah pabrik, tidak memungkinkan baginya untuk bermimpi melanjutkan ke bangku kuliah, dia menyadari masih ada empat orang adiknya yang membutuhkan biaya sekolah. Penghasilan bapak bisa cukup untuk makan keluarga mereka satu bulan ke depan saja, sudah sangat bersyukur. Tidak jarang bapak dan ibunya harus berhutang sana sini demi kelangsungan hidup keluarga mereka.

Rasa dendam, emosi, dan egoisme jiwa muda akhirnya mendorong Ricky bergabung menjadi anggota geng motor. Ya, Ricky ingin diakui keberadaannya, dia ingin menunjukkan eksistensi diri. Dengan bergabung dalam geng motor dia memiliki banyak teman dan lingkungan yang mengakui keberadaannya, Ricky ingin menunjukkan siapa dirinya. Juga untuk mendapatkan materi yang selama ini sangat tidak bersahabat dengannya.

Namun kini semua kebanggaan semu yang dirasakan luluh lantak. Terenggut sudah senyum kebanggaan ibu dan bapak pada dirinya, karena selama ini percaya atas kebohongan bahwa putra sulungnya sudah mendapatkan pekerjaan. Tak sanggup Ricky membayangkan bagaimana hancurnya perasaan ibu dan bapak setelah mengetahui apa yang sebenarnya telah dilakukan putranya. Akan sanggupkah mereka menanggung beratnya beban moril dan cibiran serta gunjingan orang-orang di sekitar mereka? Lalu apa yang dipikirkan adik-adik tentang dirinya? tentang kakak yang selama ini mereka banggakan, ternyata hanyalah seorang bajingan.

Bulir hangat membanjiri wajah Ricky, batinnya terasa sesak, ketika membuncah rasa penyesalan yang mengaduk-aduk emosinya. Penyesalan selalu datang terlambat, ya… penyesalan memang selalu datang terlambat.

# Cerita terinspirasi dari lagunya Skidrow, 18 and life

Advertisements

8 thoughts on “Sebuah Episode Buram

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s