anger
tarangsinha.blogspot.com

Mendapat sebuah pesan masuk melalui WhatsApp dari seorang teman. Kubaca kalimat demi kalimat yang cukup panjang itu, uuhhh kata-kata yang penuh kemarahan, sangat kasar, menghinakan, benar-benar tulisan yang tidak beretika sama sekali menurutku. Astaghfirullahal adzim… shock sendiri membaca tulisan itu.

Iya, tulisan itu bukan ditujukan padaku. Jadi sejak beberapa hari lalu, temanku ini (sebut saja namanya Dini) sudah bercerita hampir setiap hari tentang permasalahannya bersama seseorang (sebut saja Wati) padaku. Sebagai teman, aku hanya bisa menasehati dan menghiburnya, mengingatkan Dini untuk tetap menyikapi masalahnya dengan tenang, karena yakin bahwa rejeki sudah Allah atur, ada takarannya, jadi tidak perlu khawatir, dan dia sepakat dengan itu.

Aku mengenal Wati tidak terlalu dekat, karena kami hanya beberapa kali saja bertemu. Dan kesan yang kudapat dia adalah orang yang baik, dan ramah. Suami Wati ini adalah teman kami (aku dan Dini) sejak masih remaja, sehingga aku lebih mengenal suaminya. Dia adalah seorang teman yang asik, dengan pembawaan kalem, dan sabar menjadi ciri khasnya.

Cerita berawal dari kongsian usaha kuliner, karena kebetulan Dini dan Wati memiliki passion yang sama, mereka memutuskan untuk meneyewa sebuah tenant di suatu apartement dan mengelolanya bersama. Setahuku mereka berhubungan baik selama ini, cukup sering juga mereka bekerjasama dalam bisnis, bahkan temanku Dini ini kerap memuji-muji Wati, betapa baiknya dia, bla… bla… bla…

Namun tak disangka, belum genap satu bulan usaha mereka berjalan, gesekan sudah terjadi. Terutama setelah kejadian pada suatu hari, saat Dini tidak bisa berjualan karena suaminya sakit, Wati berinisiatif menjual menu milik Dini tanpa konfirmasi. Ternyata tanpa sengaja di hari itu Dini mampir karena ada keperluan, sehingga akhirnya apa yang dilakukan Wati ketahuan juga. Wati yang sudah memutuskan ingin lepas kongsi sejak beberapa hari sebelumnya, menjadi semakin mantap dengan keputusannya. Komunikasi di antara mereka pun tak semesra dulu lagi. Mungkin itulah saat dimana benih kebencian mulai tersemai di hati mereka.

Karena merasa belum genap menghabiskan masa sewa tenant yang dibayar patungan, maka Wati pun meminta Dini untuk mengembalikan kelebihan uang tenant yang sudah dibayarkannya, Dini keberatan dengan hal ini karena uang sudah disetorkan pada pengelola. Dan inisiatif melepaskan diri muncul dari Wati sendiri, sedikit pun Dini tidak merasa melanggar kesepakatan yang telah mereka buat sejak awal.

Gesekan semakin tajam manakala Dini merasa Wati selalu mengikuti menu andalan yang dijualnya, untuk dijual di tenant miliknya, walaupun dengan nama yang berbeda. Sampai akhirnya konflik pun tak terhindarkan lagi. Melalui WA mereka saling sindir hingga akhirnya saling hujat, dan puncaknya pesan yang dikirim Dini kepadaku, pesan yang diterimanya dari Wati, pesan dengan kalimat-kalimat yang sangat menyakitkan, berisi hujatan, hinaan, sumpah serapah, bahkan mendo’akan keburukan hingga tujuh turunan bagi keluarga Dini. Naudzubillahimindzalik…

Masalah yang berkembang akhirnya bukan hanya melibatkan Dini dan Wati, tapi para suami pun ikut turun tangan. Dan akhirnya diputuskan jika mereka sudah saling bermaafan, tapi tidak akan berhubungan lagi. What??? bermaafan tapi putus silaturahmi? Dan yang membuat keputusan tersebut adalah suami Wati, teman kami. Sebagai teman rasanya sedih sekali mendengar akhir pertemanan menjadi seperti ini. Namun bisa kubayangkan bagaimana posisi suami Wati saat itu, dan mungkin itulah keputusan terbaik yang bisa diambil saat itu, menurutnya.

Rupanya jika menyangkut urusan periuk, setan lebih mampu kuasai hati dan berjaya kendalikan amarah mereka. Bayangkan sekian tahun pertemanan, ranggas hanya dalam waktu kurang dari satu bulan saja.

Padahal jika melihat kondisi ekonomi Wati yang sudah mapan, rasanya tidak perlu masalah ini sampai menjadi sedemikian besar. Bisa dibilang bisnis bagi Wati yang selama ini dijalaninya pun sekedar mengisi waktu, karena suami Wati berpenghasilan lebih dari cukup. Berkali-kali bisnisnya yang sudah menghabiskan banyak uang tidak berjalan, namun sang suami tidak pernah surut untuk selalu memberikan dukungan moril dan materiil akan setiap keinginan istrinya untuk memulai lagi bisnis yang baru.

Seandainya saja kedua belah pihak mau lebih bersabar, saling menjaga lisan maupun sikap mereka. Menghargai jalinan pertemanan yang sudah terajalin sekian lama, membicarakan dan mencari solusi bersama dengan hati dan pikiran jernih, tentu semua ini tidak akan terjadi. Silaturahmi akan tetap terjalin baik.

Menahan amarah berarti menundukkan nafsu yang selalu menyuruh kepada keburukan. Saat amarah tengah menguasai seseorang, maka dia akan kehilangan kendali dirinya. Sikap maupun ucap yang terlontar bukan tak mungkin akan menjadi sesuatu yang sangat disesali kemudian hari.

Di sinilah terlihat nyata betapa pentingnya seseorang memiliki sifat sabar, tawakal, syukur, dan qona’ah. Juga senantiasa berhusnudzon akan apapun ketetatapan Allah atas diri kita. Yakinlah, ketetapan Allah pasti yang terbaik. Karena hanya Allah yang Maha mengetahui apa-apa yang terbaik bagi setiap hambaNya.

Dengan memiliki sifat tawakal, maka kita akan pasrahkan pada Allah apapun hasil dari ikhtiar kita. Tetap menyukuri walaupun hasilnya tidak seperti apa yang diharapkan, dan  menerimanya dengan penuh keikhlasan dan sabar. Dengan bersabar insyaallah kita akan terhindar dari perangkap syetan yang selalu siap menjerumuskan diri pada keburukan. Kemampuan mengelola emosi, kemampuan menampilkan pembawaan diri akan teruji ketika seseorang berada dalam tekanan atau masalah.

Semoga kita semua senantiasa terlindungi dari godaan syetan dan mampu mengelola emosi dengan baik dengan bersabar, tawakal, dan senantiasa berhusnudzon dalam menghadapi segala masalah. Aamiin

.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s