barongsekeloa

Sekeloa adalah sebuah kampung di salah satu sudut kota Bandung, tepatnya berada di kecamatan Coblong. Kampung ini tempatku tumbuh dan menikmati masa kanak-kanak, walaupun tidak terlahir di sini. Aku menjadi bagian dari warga Sekeloa tepatnya sejak usiaku sekitar dua tahun. Bapak membawa mama dan kami anak-anaknya kembali ke kampung Sekeloa, tempat beliau menghabiskan masa kanak-kanak. Membangun sebuah rumah, dan meninggalkan rumah kontrakan di Balubur. Tinggal tak jauh dari rumah eyang dan resmi menjadi penduduk kampung ini.

Nama Sekeloa diambil dari gabungan kata seke (bahasa Sunda) yang artinya sumber mata air, dan loa (bahasa Sunda) yang artinya beringin.
Di wilayah ini dulunya memang banyak sumber mata air, yang kemudian dijadikan semacam tempat pemandian umum bagi warga sekitar. Walaupun hanya dihalangi sebuah dinding sederhana, atau bahkan hanya penyekat dari kayu, namun di tahun 80an masih banyak warga yang memanfaatkan seke untuk kebutuhan sehari-harinya. Pada masa-masa itu suasana kampung masih terasa begitu kental di wilayah kami, termasuk keakraban antar tetangga.

Pohon beringin pun turut menghiasi kampung kami. Yang paling kuingat adalah sebuah pohon beringin tua yang terletak di dekat sekolah Taman Kanak-Kanak tempatku bermain dan belajar dulu. Berdiri kokoh di pojok tepat depan sebuah tanah lapang, yang sering dijadikan sebagai tempat aneka kegiatan warga.

Hal lain yang menjadi keunikan dari kampung Sekeloa ini, adalah sebuah budaya yang sudah mengakar hingga saat ini secara turun temurun. Budaya ini menjadi ciri khas, dan juga kebanggaan warganya.

Barong Sekeloa, atau kami biasa menyebutnya barongsai. Iya, barongsai. Yang dikenal umum sebagai budaya China, ternyata ada juga di kampung kami. Entah ada pengaruh dari budaya China atau tidak, karena para pelaku seni barongsai yang ada saat ini pun kurang memahaminya. Mereka hanya berusaha melestarikan apa yang sudah diturunkan oleh leluhur kampung ini. Barong Sekeloa rutin dimainkan saat perayaan hari kemerdekaan. Bisa juga saat ada perayaan-perayaan lain, atau hajatan warga.

Saat aku kecil, karnaval Agustusan adalah acara yang selalu kunanti. Bersama kakak, dan teman-teman, kami lebih memilih menjadi penonton karnaval, daripada menjadi salah satu pesertanya. Saat suara alunan musik khas pengiring barong Sekeloa mulai terdengar, warga  akan mulai berbaris di sepanjang jalan yang akan dilalui karnaval untuk menonton. Peserta karnaval anak-anak berbaris di depan, kemudian diikuti peserta yang lebih besar, dan orang dewasa. Rombongan seniman barong Sekeloa, serta warga yang ingin turut berpartisipasi berada di akhir barisan.

Sebelum karnaval dimulai, para pelaku seni barong Sekeloa berkumpul, dan sesepuh akan membacakan do’a/ mantera. Lapangan di depan pohon loa/ beringin itu salah satu tempat yang sering dipilih. Sedangkan waktu memulai pertunjukan adalah tengah hari, saat matahari tepat berada di atas kepala. Perpaduan suara bedug, goong, terompet, dan simbal, mengiringi pertunjukan ini. DUG DAG DUG CEEENGGG… kurang lebih seperti itu suaranya. Hatiku selalu diliputi perasaan tak menentu setiap kali mendengar alunan musik ini, bulu kuduk berdiri, jantung terhentak, serasa mau copot.

Setelah beberapa saat karnaval berjalan, maka di sepanjang perjalan itu satu per satu partisipan dan seniman barongsai, yang tengah berjalan mengiringi barong sambil bergaya ala-ala pencak akan ‘kerasukan’. Dan aksi mereka inilah yang paling menarik perhatian penonton, walaupun para penonton sesekali harus berlari saat orang yang kerasukan mendekati. Tak jarang, tubuh para seniman barong Sekeloa dan partisipannya yang kerasukan menjadi luka-luka setelah pertunjukan usai, tentu saja karena saat tubuh mereka dikendalikan makhluk lain, gerakan mereka menjadi liar tak menentu.

Setelah karnaval selesai, maka para sesepuh akan mengembalikan kesadaran orang-orang yang telah kerasukan tadi.

Kini sesepuh Sekeloa banyak yang sudah tiada, namun kesenian ini masih terus terpelihara. Dari generasi ke generasi budaya ini tetap dicintai. Anak-anak kecil di Sekeloa bahkan banyak yang difasilitasi orang tuanya untuk mengenal budaya ini sejak dini. Dengan barong dan bedug mini, mereka bermain keliling kampung menyerupai pertunjukan barong Sekeloa yang biasa mereka saksikan, tentunya tanpa mantera dan orang yang kerasukan.

Memang dalam perkembangannya saat ini barong Sekeloa lebih menonjolkan unsur seni daripada mistisnya. Terakhir kali menyaksikan pertunjukan barong Sekeloa, tak ada orang kerasukan yang tertangkap mata. Sepertinya unsur mistis perlahan-lahan mulai dihapuskan. Ini merupakan suatu kemajuan, menurutku.

Dulu cerita mistis bagi warga kampung ini sudah sangat biasa. Mungkin karena di sini banyak terdapat kuburan, dan tidak sedikit juga rumah-rumah warga yang dibangun di atas bekas kuburan, sehingga cerita mistis lahir hampir di setiap sudut kampung ini.

Salah satu yang masih kuingat, adalah ketika di kampung kami tengah dihebohkan dengan adanya pocong yang sering kedapatan gentayangan setiap malam Jum’at, oleh hansip dan warga yang ronda. Namun pocong itu setiap kali dikejar, selalu menghilang di salah satu rumah warga. Konon, si nenek penghuni rumah itu tengah mendalami suatu ilmu. Dan kabar yang beredar, siapapun yang disentuh oleh beliau biasanya akan jatuh sakit.

Nenek tersebut beserta anaknya juga beberapa kali kedapatan warga tengah berada di kuburan saat maghrib, seperti tengah melakukan suatu ritual. Namun warga tidak melakukan tindakan apapun kepada beliau, mungkin karena beliau termasuk salah satu sesepuh juga di kampung kami. Warga hanya bersikap waspada, dan menghindari kontak dengan yang bersangkutan.

Pada suatu malam, ketika di rumah kami kami semua tengah tertidur nyenyak, tiba-tiba Mbak Wiwik, adik sepupu mama yang tinggal bersama kami berteriak dan berlari dari kamar belakang yang ditempatinya, dia menggedor pintu kamar mama dan bapak. Kami semua terbangun, ingin mengetahui apa yang terjadi. Dengan wajah pucat dan tubuh yang masih gemetaran, Mbak Wiwik bercerita kalau baru saja ada pocong yang berdiri di samping tempat tidurnya. Bapak segera memeriksa kamar belakang, kami semua membaca do’a-do’a yang kami bisa. Namun Bapak tak menemukan apapun di sana, pocong itu sudah menghilang. Apakah dia pocong yang sama seperti yang kerap ditemukan warga?¬† atau pocong yang lain? Kami tidak tahu pasti.

Kini, sudah lama cerita mistis tak terdengar lagi dari kampung kami. Wajah Sekeloa telah berganti. Kebun, sawah, seke, tanah lapang, bahkan tanah kuburan sudah berubah menjadi bangunan rumah tinggal, atau kostan. Para pendatang, yang umumnya sedang mencari ilmu di kota kembang tercinta, memadati kampung kami. Maka, pemandangan kost-kostan, warung nasi, dan laundry yang terus tumbuh bak jamur di musim penghujanlah kini yang menghiasi.

Ah…. andai saja anak-anakku dapat merasakan suasana Sekeloa dan keseruan sebagai penduduknya di masa lalu. Sayangnya semua keindahan dan keseruan itu hanya dapat mereka nikmati melalui cerita mamanya saja.

#tantangan_odop

#urbanlegend

img-20160817-wa0010

Advertisements

2 thoughts on “Sekeloa, Dari Barong Sampai Pocong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s