img_7635
bayberrymusic.com

Angin malam berhembus sejukkan ragaku yang tengah duduk di bawah hamparan langit gelap, mengamati orang-orang di sekitar rumah tua kumuh, tempat tinggalku saat ini. Suasana yang akrab dengan diriku dalam beberapa bulan terakhir. Sesekali bulan dan bintang menemani, berbagi sedikit sinarnya untuk kunikmati.

Seorang gadis bertubuh kurus berjalan memasuki halaman, lalu dia duduk di teras rumah penuh debu ini, sedikitpun dia tak peduli seberapa kotor lantai yang didudukinya. Oh, rupanya itu Sari. Gadis 11 tahun yang sehari-hari mengamen agar punya uang jajan dan sedikit tabungan. Sama seperti aku dulu.

Tangan Sari segera membuka tas pinggang hijau tua yang melingkari tubuh kurusnya, kemudian sejumlah uang dihamburkan di atas lantai. Lembar demi lembar uang seribu dan dua ribuan itu dibentangnya, kemudian disusun, dipisahkan dengan recehan yang menggunduk di sisi kirinya. Mulutnya komat kamit, sepertinya tengah menghitung jumlah uang yang berhasil terkumpul. Senyumnya mengembang, kemudian semua uang-uang itu kembali dimasukan ke dalam tas pinggangnya.

Tak berapa lama, nampak seorang pria berperawakan gempal dengan topi dan jaket hitam melangkah memasuki halaman kemudian menghampiri Sari. Ah… aku sangat mengenal pria itu, Pakde Warno, orang-orang memanggilnya. Dia adalah pemilik warnet di jalan Kemiri depan itu.

“Banyak penghasilanmu hari ini, ya?” Lelaki itu menghampiri Sari.

“Iya, Pakde. Lumayanlah, bisa nambahin tabungan buat beli sepatu baru.” Sari mendongak menatap wajah Pakde Warno, dengan senyum bahagia yang menghiasi wajahnya.

“Oh… kamu mau sepatu rupanya?” Kali ini Pakde duduk di samping Sari.

“Iya, sepatuku sudah sempit dan bolong, Pakde.”

“Duh…. kasihan, kenapa nggak bilang Pakde? Mau dibelikan sepatu baru?”

Sari hanya menatapi pria di hadapannya, seolah tengah berusaha meyakinkan dirinya jika dia tidak salah mendengar.

Kemudian Pakde Warno melingkarkan lengannya ke bahu gadis itu. Ditariknya tubuh Sari padanya.

“Ssst… dengar, nanti kubelikan kamu sepatu baru. Asal kamu turuti kata-kataku,” ujar pria itu, yang nadanya lebih mirip seperti sebuah perintah.

Aku mulai terganggu melihat ini, perasaanku mengatakan Sari tengah dalam bahaya. Dan kurasa ini saatnya aku harus berani melakukan sesuatu. Pria sialan ini tak boleh bebas begitu saja, berkeliaran melakukan aksi bejatnya kepada gadis-gadis terpinggirkan seperti aku dan Sari. Kami memang miskin, namun kami masih punya harga diri. Dan jika ada yang harus musnah dari muka bumi ini, dia adalah manusia brengsek seperti si Warno itu.

“Jangan, pakde. Aku nggak mau… aku nggak mauuuu.” Sari meronta. Namun teriakan Sari nampaknya membuat panik lelaki itu. Dia kemudian membekap dan memukul Sari.

Ini sudah tak bisa kubiarkan lagi. Jika selama ini aku hanyalah seorang gadis yang tak dipandang oleh siapapun, kini saatnya kubuat seseorang memandangku. Dan orang itu adalah Warno. Orang yang sama, yang telah membuatku terdampar di sini, di tempat ini, sejak beberapa bulan lalu.

Aku melesat ke hadapan pria itu, menampakkan diriku, dia terbelalak menatapku. Saat dia hendak berlari, kutarik kakinya, tubuh gempal itu jatuh berdebum. Sari tidak membuang kesempatan baik ini, dia segera berlari menyelamatkan diri dari lelaki bejat bernama Warno itu.

Kini hanyalah antara aku dan dia, saat yang tepat untuk membalaskan dendamku. Dengan kekuatan amarah dan dendam yang bergolak di dada, kuangkat tubuh gempal itu, untuk kemudian kuhempaskan pada kumpulan beberapa batu besar, yang ada di salah satu sisi, di bawah pohon mangga rindang, tempatku sehari-hari duduk menikmati hembusan angin di bawah langit malam.

Ya, itulah yang kulakukan setiap hari, sejak beberapa bulan terakhir ini. Tepatnya sejak peristiwa itu terjadi. Ketika tubuhku terhempas, setelah lelaki sialan itu menarik dan menghajarku, saat aku coba melawannya, ketika dia ingin melakukan perbuatan terkutuk itu pada diriku. Kepalaku jatuh terbentur tepat di atas batu-batu itu. Darah segar mengucur dari kepala dan telingaku. Saat itu aku melihat tubuhku terbaring di atas tanah, tak bergerak, dengan cairan merah di sekitar kepala. Hanya rumah tua serta pohon mangga bisu inilah yang menjadi saksi hari itu.

Kusaksikan si Warno bersandiwara. Dia berlari dan memanggil orang-orang, seolah-olah dia panik dan merasa kasihan melihat keadaanku. Dia katakan jika dia tak sengaja melihatku telah tergeletak bersimbah darah, saat tengah berjalan melewati rumah tua ini.

Dan sayangnya, orang-orang percaya begitu saja padanya. Mereka percaya jika aku terjatuh karena sebuah kecelakaan. Karena gadis pengamen badung ini kerap terlihat warga saat tengah memanjat pohon mangga di depan rumah tua ini, untuk sekedar mendapatkan tambahan ganjal perutnya.

Begitu pula ibuku, ketika Pak RT mengusulkan untuk lapor kepada polisi, ibuku menolaknya. Tahu kenapa? Karena si Warno sialan, telah lebih dulu datang dan bercerita tentang repotnya laporan pada polisi, yang hanya akan menguras banyak waktu dan biaya. Dengan sebuah amplop berisi beberapa lembar rupiah berwarna merah yang disodorkannya sebagai tanda bela sungkawa, ibuku seperti tersihir untuk mempercayai kata-katanya begitu saja.

Ah…. siapalah diriku ini? hanya seorang gadis pengamen miskin, yang tak pernah dipandang sebagai seseorang.

Belum puas kulampiaskan dendamku padanya, kembali kuhampiri tubuh yang terkapar itu, hmmm napasnya masih ada. Kucengkeram dan kuangkat kepalanya, lalu kuhempaskan tepat ke atas batu itu. Dia mengerang… darah segar mengucur, persis seperti yang kuinginkan. Kemudian tubuhnya terkulai.

Kini dia tengah menangis di hadapanku, menangisi tubuhnya yang terkapar beralas cairan merah. Tiada lagi erang kesakitan dari mulut itu, diam membisu. Tentu saja, karena tubuh itu kini telah terpisah dengan nyawanya.

Hahahaha………….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s