Setelah meyeruput sisa minumannya, Jihan segera beranjak dari tempat duduk, teringat undangan rapat di sekolah putra bungsunya yang akan segera dimulai dalam waktu 30 menit lagi.

Terdengar sebuah suara memanggil namanya. Mata Jihan menyapu ruangan, mencari si pemilik suara itu. Tampak seorang pria tengah tersenyum dan melambaikan tangan padanya. Ah… Mas Andri.  Jihan pun balas tersenyum, sekejap ingatannya melayang kembali pada masa beberapa tahun yang lalu, saat lelaki itu turut mewarnai hari-harinya.Dan kenangan itu masih tersimpan rapi di salah satu sudut hatinya.

“Apa kabar?” Andri yang kini sudah berdiri di hadapan Jihan mengulurkan tangannya.

“Alhamdulillah, baik Mas. Mas Andri gimana?” Jihan balik bertanya, seraya menyambut uluran tangan Andri.

“Baik juga.” Senyum khas pemilik wajah itu kembali terukir di hadapan Jihan.

“Sudah selesai makannya?” Tanya Andri. Matanya melirik meja tempat Jihan duduk tadi.

“Iya, sudah dari tadi Mas aku di sini. Sekarang mau ke sekolah si Adek, ada undangan rapat di sekolahnya.”

“Yah… padahal kita baru ketemu lagi kan? ngobrol-ngobrol dulu dong sebentaaaar aja.” Andri menarik salah satu kursi yang ada di dekat Jihan. Tanpa kata, hanya melalui ekspresi wajahnya Andri memohon Jihan duduk di situ.

Jihan tersenyum, hal yang biasa Andri lakukan sejak dulu jika tengah memohon sesuatu pada Jihan, hanya melalui ekspresi wajahnya yang dibuat memelas agar Jihan mengikuti kemauannya.

“Baiklah… iya juga ya, dah lama kita baru ketemu lagi. Tapi maaf nggak bisa lama-lama Mas, nggak enak juga kalau telatnya kelamaan nanti ke undangan rapat.” terang Jihan sambil duduk di kursi yang disediakan Andri untuknya.

Andri tersenyum lebar, menunjukan rasa senangnya karena Jihan mau mengikuti permintaannya.

“Kabar Mbak Sussy gimana Mas? sudah berapa sekarang krucilnya?”

“Mbak Sussy sehat, alhamdulillah. Si sulung sudah kelas enam sekarang, adiknya kelas empat. ” terang Andri.

“Wow… nggak kerasa ya, udah mau punya abege.”  Bola mata Jihan membesar, disusul dengan sebuah senyuman di bibirnya.

“Iya, sudah semakin tua bapaknya, ya?” Andri balas tersenyum. Ada sebuah rasa yang tengah menyusup di hatinya. Gabungan antara bahagia dan rindu, yang tengah mengalun merdu di sudut hatinya. Wajah itu, senyum itu, dengan kehangatannya masih tetap sama seperti dulu.

“Mas, aku pamit duluan ya.” Telunjuk kanan Jihan menunjuk jam tangan di lengan kirinya. Sebagai pertanda jika dia tengah diburu waktu.

“Kamu bawa kendaraan? Kalau nggak biar Mas antar.”

“Bawa Mas, makasih.”

“Oh… ya udah, hati-hati ya! Maaf bikin telat.”

“Nggak apa-apa, santei aja. Ok, salam buat Mbak Tutty dan anak-anak ya!”

Andri berdiri, dan mengulurkan tangannya.

“Sampai ketemu lagi ya.”

Setelah berjabat tangan, Jihan pun melangkah pergi. Andri menatapi wanita itu hingga menghilang dari pandangan. Satu pertanyaan yang sejak tadi ingin diajukan, namun tiada keberanian. Hanya tertahan di tenggorokan dan enggan keluar. Menyesal mengapa dirinya tadi tak memberanikan diri untuk sekedar bertanya, Berapa nomor HPmu?

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s