Kamu… (2)

Andri merebahkan tubuhnya pada sofa di depan televisi, tak berapa lama istrinya datang dengan secangkir kopi. Hmmm… aroma khas kopi hitam yang menggelitik hidungnya ini  selalu berhasil kembalikan semangatnya setelah seharian berkutat dengan pekerjaan di kantor, terlebih secangkir kopi ini dibuat dan disajikan khusus oleh wanita tercinta, lengkap dengan senyum manis dan tatapan penuh kasih sayang. Seketika segala rasa lelah terasa sirna. Continue reading “Kamu… (2)”

Kamu… (1)

Setelah meyeruput sisa minumannya, Jihan segera beranjak dari tempat duduk, teringat undangan rapat di sekolah putra bungsunya yang akan segera dimulai dalam waktu 30 menit lagi.

Terdengar sebuah suara memanggil namanya. Mata Jihan menyapu ruangan, mencari si pemilik suara itu. Tampak seorang pria tengah tersenyum dan melambaikan tangan padanya. Ah… Mas Andri.  Jihan pun balas tersenyum, sekejap ingatannya melayang kembali pada masa beberapa tahun yang lalu, saat lelaki itu turut mewarnai hari-harinya.Dan kenangan itu masih tersimpan rapi di salah satu sudut hatinya. Continue reading “Kamu… (1)”

Soal Rasa

Katamu kau pecinta bangsa, yang kau takut adalah terjadi huru hara. Namun ketika semua berjalan indah sempurna, kau tetap nampak tak bahagia. Kau terus mencari cela. Saat cela tak kau dapat, hatimu kecewa, karena yang terjadi tak sesuai prasangka.

Sejujurnya hati kecilmu berharap prasangkamu kan menjadi nyata, hingga kau pun kan lantang berkata, “Apa kata gua?”

Kurasa karena ini soal rasa, dan hatimu belum merasa. Sebongkah hati yang kelilipan saja, kuyakin dia tidak buta.

Do’aku, semoga hidayah segera menyapa.

#212