keep-calm-and-love-nursing-14

Tubuh Risty terasa lemas, badannya demam, namun Risty merasa kedinginan. Kepala berdenyut, wajahnya pucat, entah apa yang salah dengan tubuhnya. Sejak semalam terasa sangat tidak nyaman, sehingga Risty terus terjaga semalaman.

Bang Hendry kebetulan ada rapat pagi ini di kantornya, tidak memungkinkan untuk mengantar Risty berobat. Sebagai pertolongan pertama Risty hanya mengandalkan obat sakit kepala yang ada di kotak obat saja. Mengingat saat suaminya pergi, hanya ada dirinya dan Byan kecil di rumah. Risty tidak boleh manja, karena ada putra kecilnya yang membutuhkan perhatian.

Sofa ruang tengah menjadi pilihan Risty untuk berbaring, mengistirahatkan tubuhnya hari itu, agar dia dapat beristirahat sambil tetap mengawasi si kecil bermain. Bocah tiga tahun itu seolah mengerti apa yang tengah dirasakannya, dia membawa semua mainan dan duduk bermain di samping sofa sambil sesekali memperhatikan sang mama. Rupanya pesan papa, untuk menjaga mama benar-benar dipahaminya. Byan kecil yang kesehariannya sangat aktif, kini nampak lebih kalem bermain seorang diri.

Risty terlelap di atas sofa, matanya terbuka seketika, saat terdengar suara piring saling beradu di dapur. Dengan sigap Risty mencari sosok putra kecilnya, ternyata dia tidak ada di tempat semula. Bergegas beranjak dari sofa, dan melihat asal suara di dapur.

Tampak putra kecil kesayangan tengah jinjit diatas sebuah kursi plastik kecil miliknya, di depan wastafel. Satu tangan memegangi spons penuh busa, dan satu lagi memegangi sebuah piring.

“Byan, lagi apa?” tanya Risty dengan rasa haru.

Byan menoleh, dan menatap Risty sambil tersenyum.

“Cuci piling,” jawabnya.

Tampak beberapa piring dan gelas yang tersusun di samping wastafel sudah berselimut busa. Begitupun dengan wastafelnya, busa melimpah dimana-mana. Khawatir terjadi sesuatu pada putra kesayangannya, Risty coba mengambil alih dengan dalih ingin membantu.

“Duh, sayang… anak mama pinter sekali. Ayuk mama bantu, biar Byan nggak kecapekan, jadi bisa jagain mama lagi.” Byan pun mengangguk setuju.

Setelah merapikan semuanya, mengelap semua bagian lantai yang basah, juga busa sabun yang berserak, Risty kembali mengajak putranya ke ruang tengah.

Baru saja Risty duduk di sofa, Byan kembali berbalik arah menuju dapur, kemudian datang dengan membawakan segelas air minum untuk mamanya.

Tak kuasa Risty menahan haru, matanya mulai basah. Dipeluknya sang buah hati, dan dihujani dengan ciuman.

Keringat dingin kembali bermunculan dan melintasi kening Risty, kepalanya terasa berputar. Ketika Risty hendak merebahkan tubu di atas sofa, pemuda kecilnya beranjak melangkah ke ruang makan, kemudian berbelok ke arah dapur, mengambil alat pel yang teronggok di pojok. Risty mengekori, kemudian bersandar pada tembok dapur, mengawasi si kecil. Diabaikannya segala rasa tak nyaman yang tengah mendera tubuhnya.

Kini Byan telah membasahi alat pelnya dengan air kran di samping dapur, kemudian kembali masuk ke ruang tengah. Kucuran air dari alat pel yang dibawa Byan membasahi sepanjang lantai yang dilaluinya. Segera Risty mengambil lap, dan mengeringkan. Kemudian mendampingi Byan yang tengah mengepel ruang tamu. Genangan air di sana sini sebagai jejak permukaan lantai yang telah dipel putranya dikeringkan Risty demi menghindari suatu hal tak diinginkan terjadi pada sang asisten kecil.

“Mama bobo aja, Byan yang ngepel.” Wajah polosnya menatap Risty yang tengah berjongkok sambil mengeringkan lantai dengan tubuh yang bersimbah keringat dingin.

“Mama nggak mau bobo kalau Byan nggak jagain mama,” jawab Risty dengan gaya merajuk, berharap putra kecilnya akan menuruti.

“Iya, Byan udah ngepelnya. Yuk, mama bobo!”

Dihempaskannya alat pel itu di lantai. Risty segera mengambilnya, kemudian menyimpan di atas lemari setelah diperasnya. Byan kecil terus menguntit dan memperhatikan setiap gerakannya.

“Kenapa disimpan di atas?” tanyanya dengan kepala mendongak, memperhatikan letak alat pel ini sekarang.

“Biar cepat kering,” jawab Risty sekenanya.

“Kenapa mama nggak bobo?” dua bola matanya memperhatikan sang mama yang terduduk bersandar ke dinding. Pandangan Risty serasa berputar, tubuh terasa semakin dingin dengan peluh membanjir.

Dipejamkannya kedua mata dengan tembok sebagai sandaran, agar menopang tubuhnya yang kian berpeluh supaya tidak sampai rubuh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s