rumah_sawah_by_judyoplasma_1
Judyoplasma.devianart.com

Kertas biru itu melekat erat dalam dekapan Surti. Rasa bahagia membubung memenuhi dada hingga ke ubun-ubun, sepucuk surat dari Jakarta; dari sang arjuna tercinta, yang mengabarkan bahwa dirinya akan segera pulang ke desa di akhir bulan ini. Itu artinya hanya tinggal tujuh hari lagi. Ya… hanya tujuh hari lagi. Berulang kali Surti membaca lembar biru itu, sekedar untuk memastikan agar dia tak salah memperkirakan hari pertemuannya dengan sang arjuna nanti.

Surti merebahkan tubuhnya di atas dipan, dengan kertas biru erat dalam dekapan, sesekali diciuminya kertas itu. Matanya memandang langit-langit kamar, yang kini sudah dipenuhi oleh lukisan wajah sang arjuna, lengkap dengan senyuman manisnya, yang selama tiga tahun ini selalu memenuhi ruang khayal dan mimpi Surti.

Kenangan tiga tahun silam kembali tergambar di benak Surti, saat sang arjuna pamit ke kota untuk mencari dana, demi wujudkan cita-cita tuk mengarungi bahtera kehidupan bersama, hingga ajal memisahkan mereka. Itu ikrar yang pernah mereka ucapkan berdua, di suatu siang sambil menyusuri pematang sawah.

Tejo yang hanya seorang anak petani merasa harus memantaskan diri dahulu, sebelum meminang sang pujaan hati yang merupakan putri pak kades, yang sudah barang tentu di desa mereka beliau adalah orang yang cukup terpandang dan berkedudukan. Jalinan asmara yang sudah terpatri kuat diantara mereka, sejak awal masuk bangku SMP, tidak pernah tergoyahkan hanya karena status sosial.

******************

Hari yang dinantikan tiba. Surti tak kuasa lagi menahan rindu, pukul satu mereka berjanji untuk bertemu, masih di tempat yang sama, seperti tiga tahun lalu, seperti masa-masa sebelumnya, tempat yang telah menjadi saksi kisah cinta dua anak desa yang berikrar untuk selalu bersama, Surti dan Tejo.

Surti berjalan menyusuri pematang, menuju sebuah saung di tengah sawah, dengan wajah sumringah. Benaknya dipenuhi banyak aksara, mencoba merangkai kata yang akan disampaikannya nanti saat berjumpa sang arjuna. Kembali membayangkan sosok Tejo yang pemalu, yang suka mencuri pandang dan kemudian tersipu malu saat tatapan mereka beradu. Dan tiga tahun yang lalu, adalah terakhir kali Surti menikmati semua itu, saat Tejo berpamitan untuk pergi ke kota, demi mencari penghidupan yang lebih baik, agar dapat mengantongi restu dari ayahanda.

Tiba-tiba sebuah tepukan di pundak mengejutkannya, kepala Surti menoleh, dan kedua pasang mata itu bersirobok, Surti terkesima oleh pandangan dan senyum manis yang sekian lama begitu dirindukannya, mata Surti tak mampu lagi sembunyikan perasaan yang tiga tahun ini terpendam, dan menuhi setiap sudut ruang di hatinya. Dada Surti bergemuruh oleh debaran jantung yang semakin tak terkendali.

“Ti, apa kabar?” sapa lelaki di hadapannya sambil mengulurkan tangan.

Dengan gemetaran, tangan kanan Surti menyambut uluran tangan itu. “Baik Jo, gimana kabarmu?” Surti balik bertanya.

“Aku baik juga. Lama ya, kita ndak ketemu. Aku kangen menikmati pemandangan sawah ini sama kamu.” Jawab Tejo dengan kedua bola mata lekat menatap Surti, tak lupa senyum manisnya turut menghiasi.

Surti jadi salah tingkah, ‘Duhhh kenapa dia jadi berani menatapku begitu? Mungkin saking kangennya sama aku, kangen lihat wajah cantikku,’ bisik hati Surti dengan perasaan berbunga, seraya membenahi posisi duduknya, dan beringsut ke satu sisi saung untuk memberi tempat pada Tejo.

Surti mengamati lelaki yang kini sudah duduk tepat di hadapannya. Kulit Tejo kini terlihat lebih cerah, tidak dekil seperti dulu lagi. Rambutnya agak gondrong dan sedikit acak-acakan, sebuah kalung tergantung di lehernya. Gayanya sudah seperti seperti Tao Ming Tse tokoh utama film seri Meteor Garden di TV itu. Tejo memang nampak lebih tampan, tapi entahlah, hati kecil Surti masih merindukan Tejonya yang dekil, lugu, kikuk, lengkap dengan senyum malu-malunya.

‘Ah biarlah, apa ruginya punya pacar lebih ganteng?’ Kata hati Surti, menasehati dirinya sendiri.

“Ti, kok diem aja. Ndak kangen toh sama aku?” tanya Tejo.

“Eh, ndak apa-apa kok Jo. Aku cuma bingung mau ngomong apa? kamu sekarang lain ya, Jo? udah jadi kayak Tao Ming Tse yang di TV itu loh.” Jemari tangan kiri Surti menutupi senyum yang terkembang di wajah ayunya.

“Ahahaha… emberrrr, di Jakarta memang gaya ini yang lagi ngetren, Ti.” Tejo tersenyum bangga.

Surti melongo, tak menyangka Tejonya akan mengucapkan kata itu.

“Ember? kenapa gaya bicara Tejo jadi seperti ini? apa jadi orang kota memang harus begini? padahal aku suka sebal kalau lihat orang di tv bicara dengan gaya begitu.” Rutuk hati Surti.

“Eh Ti, ni aku bawa oleh-oleh buat kamu.” Tejo menyodorkan sebuah bungkusan, dan meletakkannya di pangkuan Surti, kemudian beringsut mendekati Surti, dan meraih tangannya.

Tubuh Surti jadi gemetaran, keringat dingin mulai bermunculan dari lubang pori-porinya, seketika hawa panas yang sejak tadi telah menemaninya tersingkir oleh rasa dingin di sekujur tubuh.

“Aku kangen kamu, Ti. Kangen sekali, setiap hari aku mbayangin wajah kamu, pingin cepet-cepet pulang ketemu kamu.” Tutur Tejo. Diangkatnya kedua tangan Surti, dan bibir Tejo mencium lembut punggung tangannya.

Surti terpaku, perasaannya campur aduk, antara bahagia, heran, dan takut menjadi satu. ‘Sedasyat inikah ibukota telah merubah seorang Tejo yang dikenalnya?’ tanya Surti dalam hati. Dia merasa sudah tak mengenali lagi lelaki yang tengah bersamanya kini.

“Ndak usah begini toh Jo, lagipula ngapain kamu repot-repot bawain aku oleh-oleh segala.” Surti menarik kedua tangannya dari genggaman Tejo, mencoba menenangkan hati, menyusun kata-kata untuk diucapkan, agar Tejo tak melihat kegugupannya.

“Ini apa Jo? besar sekali bungkusannya, berat lagi.” Tangan Surti mengangkat bungkusan yang diberikan Tejo padanya.

“Ahahaha… buka aja nanti di rumah ya, Ti. Aku mau kamu pakai semuanya malam Minggu nanti. Aku mau main ke rumahmu, dan ngajak kamu jalan-jalan. Kamu pasti akan terlihat sangat cantik memakai semua yang kuberikan itu.” Mata Tejo lekat menatap Surti.

Surti bergidik, merasa ngeri dengan tatapan Tejo yang ada di hadapannya saat ini.

“Ya udah, nanti biar tak buka di rumah. Sekarang aku pamit dulu ya. Mau bantu ibu, menjamu tamu-tamu bapak yang mau ke rumah hari ini.” Surti berkilah, mencari alasan untuk dapat segera melepaskan diri dari ketidaknyaman yang ditebarkan Tejo di hatinya saat ini.

“Loh, kok cepat amat sih, Ti? kita kan baru ketemu. Aku nih kangen banget loh sama kamu.” Tejo kembali menggeser duduknya, merapat di samping Surti.

Tubuh Surti kaku, ketakutan semakin mencekam hatinya. Lelaki yang tengah bersamanya kini benar-benar orang baru yang tak pernah dikenalnya, bukan Tejo yang dirindukannya selama ini, bukan Tejo yang senantiasa menghiasi mimpi-mimpi malamnya setiap hari.

Seketika tangan Tejo sudah melingkar di bahunya, belum sempat Surti bicara untuk menegur, wajah Tejo sudah menghadap ke wajahnya dengan bibir sedikit dimonyongkan mendekati wajah Surti.

Tak pelak lagi, hati Surti bergolak, keraguan dan rasa takut yang sejak tadi hinggap kini berubah menjadi amarah yang memuncak. Dengan sigap Surti berdiri.

“DZIGGGHHH!!!” tinju Surti mendarat mulus di bibir Tejo. Belum puas dengan itu, Surti mengambil bungkusan besar yang diberikan Tejo tadi.

“BUK… BUK… BUK…!” dengan bungkusan itu berulangkali Surti menghajar kepala Tejo sekuat tenaga.

Bungkusan pun koyak, isinya terserak. Sepatu, tas, baju berhamburan di sana.

Surti berlari dengan amarah dan luka di hatinya, meninggalkan Tejo yang masih terpana dengan keperkasaannya.

T – A – M – A – T
_____________

‘Cerita terinspirasi dari lagunya Jamrud, Surti dan Tejo, yang ngehits di awal tahun 2000 an.’

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s