unnamed

12. 43 angka yang tertera di ponselku. Kami pun memutuskan untuk mampir ke salah satu restoran fast food di sudut jalan yang kami lalui. Dia berjalan di sampingku, pandangannya lurus ke depan, dengan kaki dan tangan yang terayun santai. Kuraih satu tangannya agar kami jalan bergandengan.

“Jangan tuntun!” Dia menarik tangannya, kemudian matanya berputar melihat sekitar, seolah khawatir akan ada yang memperhatikan adegan tadi.

Kami memilih sebuah meja yang tak jauh dari pintu masuk. Kusimpan tas di atas meja, dia duduk di kursi di hadapanku.

“Mau pesan apa, sayang?” tanyaku padanya.

“Ssssttt…. jangan panggil sayang!” Dengan telunjuk menempel di bibir, matanya berputar melihat sekeliling. Khawatir jika orang-orang di sekitar akan mendengar caraku memanggilnya.

“Yakiniku sama sundae. Minumnya apa aja deh,” jawabnya. Kemudian mengeluarkan ponsel, dan mulai asik memainkannya. Aku hanya tersenyum, kuambil dompet dari tasku, kemudian menuju kasir untuk memesan makan siang kami.

Makanan yang telah tersaji segera kami santap. Kupandangi sosok laki-laki di hadapanku ini. Aku selalu menikmati setiap gerak geriknya, termasuk saat dia tengah menyuap, dan mengunyah menikmati makanannya. Nampaknya dia benar-benar lapar, aku tersenyum memperhatikannya, dia pun balas tersenyum padaku.

“Kenapa?” tanyanya

“Nggak apa-apa,” jawabku tanpa melepaskan pandangan dari wajahnya.

Kuambil tissue di atas meja, begitu kulihat jejak-jejak makanan yang disantapnya di seputar bibir. Kuusap lembut untuk membersihkannya. Namun dia nampak terkejut, kepalanya segera ditarik ke belakang, dengan mata sedikit mendelik menatapku.

“Maaf…. lupa,” jawabku meringis.

Bibirnya sedikit mengerucut, dengan dahi berkerut, dia menatapku. Bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri sebagai pengganti jari untuk menunjukkan situasi yang sedang ramai orang di sekitar sini.

Kuangkat telunjuk dan jari tengahku tepat di depan wajah, sebagai perlambang ‘damai’.

“Maafkan mama sayang, mama lupa kalau kamu sudah SMP. Habis… mama tidak pernah tahan dengan godaan wajah innocentmu itu, untuk tidak menyentuhmu,” bisikku dalam hati.

Advertisements

6 thoughts on “Jangan Sentuh!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s