18 Tahun

“Kemarin aku minta uang buat beli makanan, aku lagi sakit nggak bisa jualan. Dia baru gajian. Tapi dia malah marah membentakku.” tuturnya lirih. Tampak air menggenang di kedua sudut matanya, bibirnya bergetar, kemudian dikatupkannya, seolah tengah berusaha menahan lesakan rasa perih dari dalam hatinya.

“Sabar ya Sa! do’ain aja semoga dia dapat hidayah.” hiburku, sambil kurangkul bahunya. Genangan air di sudut matanya kini telah menjadi aliran sungai yang meluncur deras menuruni pipi pucatnya.

“Aku selalu berdo’a, minta yang terbaik buat aku dan Firman. Aku nggak pernah cerita tentang perilaku dia sama keluarga, aku cuma bisa cerita sama kamu.” jawabnya lagi sambil menatapku.

Aku hanya terpaku, berusaha menyelami kepedihan yang sekian lama telah dirasakannya. Hatiku menangis, hatiku juga marah…. marah pada pria tak bertanggung jawab yang telah menjadi suami dari sahabatku ini selama 18 tahun.

Kemudian dia sandarkan punggungnya di sofa ruang tamu setengah kayu itu, seraya menghembuskan nafas, matanya nanar, menatap langit-langit rumahnya.

“Aku nggak minta muluk-muluk kok, aku cuma minta dia bertanggung jawab, menafkahi kami dengan kesadarannya. Itu aja.”

Sesaat kami sama- sama diam, aku mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk disampaikan padanya tanpa turut terlarut dalam emosi. Kata-kata yang dapat sedikit menghiburnya, menguatkannya.

“Tak perlu romantis, tak perlu rajin bantu aku, asal mau bertanggung jawab menafkahi, itu sudah cukup bagiku.” lanjutnya lagi seraya mengalihkan pandangannya padaku.

“18 tahun Rin, 18 tahun aku bertahan, berharap akan ada perubahan.” matanya membulat, dengan 8 jari terangkat tepat di depan wajahku.

**************

“Sori…. hpku disita. Makanya aku nelpon kamu pake telpon rumah.” terangnya padaku, saat kutanyakan tentang pesan-pesanku yang tak satu pun dibalasnya.

“Emang kenapa?” selidikku penuh rasa ingin tahu.

“Iya…. gara-garanya waktu itu si Eri bbm, aku biasa aja, balas bbmnya, nggak mikir apa-apa. Orang si Eri juga cuma nanyain pin BB sama WA nya Yanto kok.” tuturnya dengan wajah muram dan bibir yang mengerucut.

“Eh…. ternyata si aa merhatiin, terus dia langsung rebut hp nya sambil marah-marah.” lanjutnya lagi. Sejenak dia terdiam menatapi susunan toples dan gelas di atas meja di hadapan kami.

“Tau dia ngomong apa?” wajahnya terangkat, kemudian menatap lurus padaku.

Aku gelengkan kepala, walaupun ku tahu sebenarnya itu tidak perlu.

“Dia bilang, jadi gini ya kerjaannya selama ini, koleksi nomor laki-laki, chating, genit-genitan. Udah, nggak usah pake handphone lagi! Nggak perlu kamu bisnis-bisnis, urus aja anak- anak yang bener di rumah! Aku juga masih mampu biayai kalian semua.” tuturnya berapi, mencoba menirukan ekspresi suaminya kala itu.
Mata yang membulat, dengan telunjuk mengarah tepat ke wajahku, dan intonasi suara tinggi penuh emosi. Uhhhh bisa kubayangkan seperti apa wajah A Budi, suami sobatku ini saat itu.

Sesaat kemudian kedua tangannya ditempelkan menutupi wajahnya. Nafasnya berpacu diantara isak tangisnya.

“Iya…. mungkin waktu itu si aa lagi emosi, dia cemburu, karena dia terlalu cinta sama kamu, Ti.” hiburku, mencoba sedikit menenangkan perasaannya.

“Iya, aku tahu dia sayang sama aku, cintaaaa. Tapi kata-katanya itu loh Rin… itu fitnah. Seolah-olah aku telah melakukan perbuatan hina begitu. Aku terhina Rin…. aku terhina. Sakit hati aku Rin…. suamiku sendiri yang menghinakanku. Suamiku sendiri berpikir seburuk itu padaku.” Kini tangisnya pecah, bukan hanya isakan. Aku berusaha menenangkannya, kupeluk sahabatku. Kubiarkan dia tumpahkan segala kesedihannya di bahuku.

“Bicarakan saja nanti baik-baik sama dia. Dalam hal ini mungkin si aa salah caranya, tapi di sisi lain, itu karena dia terlalu takut kehilangan kamu. Sejauh ini dia suami yang baik, bukan? sayang sama kamu dan anak-anak, memenuhi segala keperluan kalian juga.” Nasihatku.

Kulihat dia sudah lebih tenang sekarang, mungkin hatinya sudah terasa sedikit lebih lega setelah berbagi kekesalannya padaku .

“Memang Rin, secara materi dia penuhi semuanya. Dia juga perhatian padaku dan anak-anak. Tapi aku bagai burung dalam sangkar Rin. Dan yang lebih menyakitkanku, prasangka-prasangka buruknya yang kerap ditujukan padaku. Aku sudah tidak tahan lagi Rin… 18 tahun aku menjalani ini, aku sudah tidak tahan dengan sikap posesifnya.” kali ini suaranya lirih, dengan pandangan yang sendu, seolah energinya telah terhisap habis  oleh keposesifan suami yang dicintainya itu.

*******************

“Rin, kami sudah ketok palu.” ujarnya dengan binar di kedua matanya yang jeli. Kedua sudut bibir yang ditarik memperlihatkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi.

“Seriusan Vie?” tanyaku dengan mata terbelalak.

“Iya.” Jawabnya pendek, sambil mengangguk, dengan senyum yang masih mengembang menghiasi wajah cantiknya. Kebahagiaan jelas terpancar dari wajah itu.

“Kamu nggak bakal nyesel Vie? dia itu kan baik, sayang banget sama kamu dan anak-anak. Kamu juga dikasih kebebasan sama dia kan? Oke deh, kalau soal penghasilan kalian berdua sama-sama mapan, sama-sama menghasilkan, jadi nggak terlalu berpengaruh buat kamu, ya?” tanyaku menyelidik.

Kemudian dia menepikan mobilnya, memarkiran di sisi jalan di bawah sebuah pohon yang rindang. Wajahnya kini berputar menghadapku.

“Rin, kita berhak bahagia, kan? bukan sebuah dosa jika kita berusaha meraih kebahagiaan kita. Wanita ingin dimengerti Rin…. kata lagu juga begitu.” ujarnya sambil menatap ke depan dan tertawa kecil.

Aku ikut tertawa melihat tingkahnya. Memang sahabatku yang satu ini, sejak pertama aku mengenalnya di bangku SMP dulu, sangat sulit untuk menemukan gurat kesedihan di wajahnya.

“Aku pikir, kalau cuma masalah itu kan nggak terlalu gimana… gitu. Nggak perlu sampai pisah maksudku.” Aku coba menyampaikan pendapatku, yang masih merasa terheran-heran dengan keputusannya yang aku bilang nekad.

“Haha…. Rin, aku lelah jadi super woman. Aku wanita, ada kalanya aku juga ingin dimanja, diemong, ditegur, bukan selalu dibiarkan apa-apa mengatasi sendiri, menentukan sendiri. Fungsi dia sebagai suami dimana? sampai saat ini malah dia yang selalu manja-manja sama aku, sifat kekanak-kanakannya tak kunjung berubah. 18 tahun bukan waktu yang sebentar untuk menunggu perubahan, Rin.” terangnya seraya menatapku lekat.

“Sekarang, statusku single. Ini baru wajar kalau aku melakukan segala sesuatunya sendiri, menjadi super woman. Betul kan?” Senyumnya kembali mengembang menghiasi wajah cantiknya.

Sahabatku ini memang seorang wanita yang penuh percaya diri. Tentu saja, selain parasnya yang cantik, dia juga seorang yang cerdas dengan kepribadian yang kuat. Karir cemerlang, menjadikan dia sebagai wanita berpenghasilan mapan.

“Jadi…. kamu ada rencana nikah lagi nggak?” tanyaku penuh rasa ingin tahu.

“Soal itu nanti aja, yang pasti kalau waiting list udah banyak. Hahaha….” Dia menjawab ringan sambil tertawa seolah tanpa beban.

************************

Aku termangu, dalam hati aku bertanya, “akankah harapan 3 sahabatku tetap sama, jika saja Risa, Yanti, dan Vevie bertukar tempat?”

“Apa jadinya ketika nasib yang sama dijalani oleh karakter yang berbeda?”

#tantangan_odop

#deskripsi_perasaan

Advertisements

2 thoughts on “18 Tahun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s