love-candy-broken

“Ayah, bunda izinkan ayah menikahi Mimin, hanya jika dia sudah berhenti dari pekerjaannya.” Hampir tak percaya pada dirinya sendiri, kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Ijah.

Gurat bahagia terpancar dari wajah Wawan, tak disangka-sangka akan semudah itu Ijah mengijinkannya berpoligami.

“Bunda memang wanita yang luar biasa, bunda punya hati emas. Ayah sayang bunda.”

Dalam dekapan Wawan, Ijah mendengar untaian kata pujian itu. Namun sedikitpun kata-kata itu tak membuat hatinya mengembang, apalagi berbunga. Rasanya Ijah ingin mendorong tubuh lelaki tercintanya itu sekuat tenaga, dan meneriakkan kata “Bohong!!!”

Namun kata itu hanya sampai di tenggorokannya saja, kemudian kembali ditelannya. Hanya air mata, lagi-lagi air mata yang mewakili rasa hatinya.

Moment itu terus menghantui Ijah, dia tidak mengerti, kenapa bisa saat itu bibirnya mengucapkan kata-kata tersebut? kata-kata yang sesungguhnya sangat bertentangan dengan hatinya. Namun apa boleh buat, kata sudah terucap. Tinggal menanti masa, sampai wanita kedua itu benar-benar berhenti dari pekerjaannya sebagai pemandu lagu di sebuah karaoke, dan kemudian resmi menjadi isteri ke dua bagi suaminya.

************************

Hari ini adalah hari yang sangat menyiksa, rasanya Ijah ingin melaluinya hanya dengan memejamkan mata sampai esok hari tiba. Tak ada rasa lapar sejak pagi tadi, pikirannya kalut mengingat rencana Wawan untuk mempertemukannya dengan Mimin dan Abi putranya. Ya, Abi, nama anak lelaki dari suami Ijah bersama wanita lain itu.
Sanggupkah dia melewatinya? kuatkah hatinya?

“Ini bunda Ijah, ayo Abi salaman dulu sama bunda Ijah.” Ucap Wawan pada anak lelakinya.

Sementara wanita di samping Abi, hanya menunduk menatap gelas di depannya. Ijah mengamati jengkal demi jengkal sosok wanita di hadapannya.

“Apa bagusnya dia?” bisik hati Ijah sinis,  wanita di hadapannya ternyata tidak seperti yang di bayangkan. Make up tebal di wajahnya membuat dia nampak jauh lebih tua dari usia sebenarnya. Dari penampilan, seolah mereka sebaya, walaupun usia wanita itu beberapa tahun lebih muda darinya.

“Yah… tentu saja, kelebihannya adalah rahimnya mampu menumbuhkan benih, yang telah ditanam suaminya. Lahannya gembur, tidak demikian dengan dirinya.” Pikiran itu membuat Ijah terpekur.

********************

Kebersamaan dengan Wawan yang dulu selalu dirindunya, kini setiap detiknya menjadi masa yang paling menjemukan . Kerap terselip nama mereka diantara kata-kata dari bibirnya, dan itu membuat Ijah gerah.

“Bun, Abi nanyain bunda. Katanya mau ketemu bunda Ijah. Boleh ayah bawa dia main ke sini?” Ijah bergeming.

“Bun, gimana kalau Mimin belajar bantu-bantu bisnis bunda. Biar dia cepat berhenti dari kerjaannya, dan mulai dibimbing sama bunda.” tanya Wawan kembali, sambil menatap wajah istrinya.

“Entah sejak kapan hati suaminya mulai membatu, kini sepertinya sedikitpun tak ada kepekaan di hatinya. Tak mengertikah dia sebegitu dalamnya retakan yang dibuat pada hati ini setiap kali bibir itu menyebut nama mereka?” batin Ijah

“Bunda belum terbiasa dengan asisten yah, lagi pula bisnis bunda masih kecil, biar bunda sendiri aja yang jalani.” Balas Ijah seraya memalingkan wajahnya ke arah jendela. Berharap hijaunya dedaunan di taman, mampu sedikit menyejukkan hatinya yang tengah bergolak.

“Kalau Abi, boleh ayah bawa main ke sini?” tanya Wawan kembali, seraya meraih tangan istrinya.

“Bawa aja.” jawab Ijah singkat, sambil menepiskan tangannya dan beranjak.

“Bunda mau kemana? bunda marah ya?” ditatapnya lekat-lekat istri yang sangat dicintainya itu.

“Dapur.” jawab Ijah sambil berlalu.

Wawan diam terpekur, menatapi garis-garis di lantai rumahnya, pikirannya kacau.

“Seandainya membagi kasih sayang, semudah membagi luas ubin ini, cukup menarik garis, dan memotongnya sama rata, tanpa harus ada yang tersakiti.” batin Wawan.

“Ayah.” tiba-tiba Ijah telah berdiri kembali di hadapan Wawan, dengan kedua bola matanya yang menatap tajam berapi.

Tersentak Wawan dari lamunannya, dia mengangkat kepala kemudian matanya beradu dengan sepasang mata Ijah yang tengah menatapnya tajam, bak seekor elang yang tengah siap menerkam mangsanya.

“Ah…. ada apa gerangan? mata itu…. sorot itu…. tidak pernah kulihat matanya dalam sorot mengerikan seperti itu.” bisik hati Wawan.

“Ada apa bun?” Wawan bertanya lembut. Berharap kelembutan suaranya mampu mengembalikan keteduhan di kedua bola mata itu.

“Bunda tidak mau ayah menikahi Mimin, bunda tidak bisa!!!!” pekik Ijah, kemudian mengatupkan gigi-giginya, kedua tangannya mengepal, berusaha menahan letupan perasaan yang tengah bergejolak di hatinya.

“Tapi bun, kata bunda waktu itu…..” kata-kata Wawan tergantung, sejujurnya hati Wawan telah mengetahui alasan atas perubahan sikap istrinya itu.

Wawan menghampiri Ijah, meraih bahunya, menatap matanya dalam, sangat dalam. Dia menemukan luka menganga di situ, luka yang masih merah, luka yang masih mengalirkan darah.

“Maafkan ayah bun…. maafkan ayah.” Ditariknya tubuh kecil Ijah ke dalam pelukannya. Kedua tangannya memeluk tubuh itu erat, sangaaaat erat.

Tangis Ijah meledak dalam pelukannya, sedu sedan hingga tersengal tangisnya telah melukiskan apa yang selama ini dipendamnya.

Hangat air mata Ijah membasahi dada Wawan, meresap hingga ke dalam hatinya, perlahan mencairkan kebekuan di sana, membuka mata hatinya yang telah rabun, yang begitu naif, berpikir tentang Ijah yang ikhlas berbagi cinta dengan wanita lain.

Di depan sana, terbayang sebuah senyuman yang tengah menghampirinya, seraya memanggil…

“Ayaaah….”

– bersambung-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s