pencil

Matanya sesekali terpejam, mencoba untuk mengingat baris demi baris bait puisi yang tertulis di halaman buku itu. Riuh suara gumaman teman-teman yang juga sedang menghafal, selalu berhasil membuyarkan konsentrasinya. Namun Arib tidak menyerah, sekuat tenaga dia terus berusaha fokuskan pikirannya.

“Sudah 15 menit ya, sudah habis waktunya. Sekarang bapak absen untuk maju ke depan satu-satu.” Kata-kata Pak Dede membuat jantung Arib berdegup kencang.

“Bagaimana ini? aku belum hafal semuanya,” keluh Arib dalam hati.

Matanya berputar memandangi teman-temannya, mencoba mencari kecemasan yang sama dengan yang dirasakanya dari wajah mereka.

Terlihat Sisil yang tengah menengadah sambil menutup kedua mata, dengan mulut komat kamit, dan buku didekapannya.

Terlihat pula Roby, yang menunduk dengan kedua tangan sebagai penyangga di dahinya.

Suara teman-teman terdengar saling berbisik, yang mungkin tengah membicarakan tentang hafalan puisi mereka.

Arib memandang bangku di sebelahnya yang kosong, sudah 2 hari ini Sandi tidak masuk karena sakit. Maka dia tidak punya teman untuk berbagi kegelisahannya saat ini.

“Adinda.” Suara Pak Dede seketika membuat seluruh isi kelas menjadi hening. Semua mata tertuju pada gadis berpita merah, yang duduk di dekat jendela kelas.

Adinda pun maju ke depan, membacakan puisinya dengan terbata-bata. Namun dia berhasil menyelesaikannya.

Pak Dede tersenyum, kemudian menuliskan nilai untuk Adinda. Sepertinya nilai yang cukup memuaskan.

“Amran.” Panggilan Pak Dede untuk giliran berikutnya.

Amran pun maju ke depan, kemudian mulai membacakan hafalan puisinya.

“Matahari.”

“Pagi-pagi aku buka jendela.”

“Matahari bersinar cerah.”

“Hari ini aku akan kembali sekolah.”

“Hari ini aku akan kembali ke sekolah….” Amran menunduk, suaranya terdengar lebih pelan, dia tengah mencoba mengingat-ingat kelanjutan puisinya, kemudian dia menatap Pak Dede dengan wajah takut.

“Nah… nggak hafal. Ayo, duduk, hafalin lagi! Yang belum hafal, bapak tandain ya,” ujar Pak Dede seraya menggoreskan bolpennya di pipi Amran sambil tersenyum.

Teman-teman yang lain tertawa, melihat Pak Dede membuat sebuah garis coretan pada pipi Amran, demikian pula Amran. Setengah berlari kembali ke kursinya sambil memperlihatkan deretan giginya yang putih, dengan tangan memegangi pipi, seolah Amran berusaha menyembunyikan tanda yang baru saja dibuat pak guru dari teman- teman.

Hanya Arib yang terdiam. Dia memandang guru di depan kelas itu dengan pandangan tajam. Kemudian matanya kembali pada deretan huruf dalam buku di atas mejanya.

“Andi.” Terdengar suara guru bahasa Indonesia itu memanggil giliran teman berikutnya.

Arib memejamkan mata, berusaha keras untuk menghafal semua rangkaian kata di hadapannya.

Terdengar suara tepuk tangan teman-teman sekelas, nampaknya Andi berhasil menghafal puisinya dengan baik. Karena pipinya bebas coretan bolpen pak guru.

“Arib.” Giliran namanya yang disebutkan, jantung Arib berdegup lebih kencang. Dia pun melangkah maju ke depan kelas, dan mulai membacakan hafalannya.

“Matahari.”

“Pagi-pagi aku buka jendela.”

“Matahari bersinar cerah.”

“Hari ini aku akan kembali sekolah.”

“Bertemu guru dan teman-teman.”

“Mmmhhh….. mmmhhh”

Arib diam mematung, jemarinya mulai mempermainkan pensil yang sedari tadi digenggamnya. Matanya berputar ke sekeliling kelas, berharap menemukan kalimat berikutnya yang tiba-tiba menguap dari kepala.

“Nah…. belum hafal lagi,” ujar Pak Dede.

Sebelum bolpen di tangan Pak Dede mendarat di pipinya, Arib telah lebih dahulu menodongkan pensil yang sedari tadi ada di genggaman. Matanya menyorot tajam, dengan rahang dikatupkan. Jantung Arib berdebar kencang, tangannya sedikit gemetaran.

Pak guru spontan menarik kepalanya, wajahnya tampak sangat terkejut. Sementara teman-teman yang tengah duduk menjadi riuh, mengomentari apa yang dilakukan Arib.

“Aku nggak salah. Aku sudah menghafal. Aku nggak mau dihukum.” Suara Arib terdengar sedikit tertahan. Seolah ada luapan besar dari dada yang tengah ia tahankan di tenggorokan. Namun itu pun sudah cukup mengejutkan guru di hadapannya. Dia tak menyangka jika apa yang dilakukannya, ternyata telah membuat satu hati merasa terluka.

Di hadapannya, berdiri seorang anak lelaki 6 tahun, yang dengan tegas menyatakan perlawanannya, menyatakan prinsipnya. Tatapannya menyorot tajam, dengan pensil terhunus di genggaman.

Pak Dede coba memahami anak lelaki itu, ia pun tersenyum, mengambil pensil dari genggamannya, kemudian melingkarkan tangannya pada bahu bocah itu.

“Maafkan bapak ya nak, bapak tidak bermaksud menghukum. Bapak hanya bergurau. Maaf kalau itu membuatmu tidak suka. Bapak tidak akan melakukannya lagi,” ucap pak Dede lembut di telinga anak didiknya itu.

Tatapan bola mata bocah itu meredup, kedua sudut bibirnya mulai mengembang, kini binar nampak di kedua bola matanya nan jernih, kepalanya mengangguk, sebagai isyarat jika dia mengerti apa yang disampaikan oleh guru di hadapannya itu.

Arib melangkah menuju bangkunya, sesaat kemudian dia mematung, laluΒ  berbalik ke muka kelas dan menghambur meraih tangan gurunya, seraya berkata….

“Maafin Arib ya pak.”

.

Advertisements

2 thoughts on “Pensil Terhunus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s