love-candy-broken

Sebut saja namanya Ijah, seorang wanita yang begitu mencintai suaminya. Wawan, pria yang telah menikahi Ijah sejak 10 tahun silam. Tak pernah mampu nampak setitik pun noda dalam diri Wawan di pandangan Ijah, kekhilafan Wawan pun tak pernah menjadikannya tampak salah, Wawan terlalu sempurna sebagai seorang suami untuk menjadi bersalah di mata Ijah, karena Wawan adalah pahlawan penyelamat bagi Ijah dan putri kesayangannya.

Sepuluh tahun silam Wawan telah menyelamatkan Ijah dari cengkeraman seorang pria yang senantiasa menorehkan luka di batin maupun lahirnya. Lima tahun pernikahan yang dijalaninya bagaikan neraka, karena hari demi hari senantiasa tertoreh luka. Konflik antara Ijah dan Asep suami pertamanya, kerap berakhir dengan mendaratnya tangan Asep di tubuh maupun rambut Ijah, bukan belaian lembut yang mendarat di rambut hitam Ijah yang tergerai, namun cengkeraman yang seolah siap mencabuti akar-akar rambutnya kapan saja, warna biru kehijauan akrab menjadi riasan di kulit wajahnya yang putih. Sesekali tubuh Ijah diseret jika rasa kesal dirasa masih menggumpal di dada Asep.

Mimpi Ijah tentang indahnya berumah tangga pupus sudah, happy ever after bagai kisah – kisah putri yang ditontonnya semasa kecil dulu semua ternyata semu. Kenyataan yang dijalani terlalu menyakitkan. Terlebih saat menatap putri kecilnya, Ijah tak sanggup membayangkan, masa depan seperti apa yang akan ditawarkan Asep pada buah hatinya itu?
Ijah hanya mengandalkan kekuatan do’a, tak putus-putusnya mengadu pada Sang Maha pemilik jiwa, berharap akan masa depan yang lebih baik bagi diri dan putrinya.

***********************

Sosok Wawan hadir seolah menjadi jawaban atas do’a Ijah. Wawan yang awalnya sekedar bertandang ke rumah Asep, menaruh perhatian khusus pada Ijah, Wawan sudah mendengar tentang kisah penderitaannya, rasa iba melihat penderitaan Ijah mengusik jiwa kelelakiannya.

Perhatian Wawan bagai cahaya matahari di awal musim semi, menerbitkan warna keindahan, menghadirkan kehangatan.
Hingga akhirnya Ijah mantap memutuskan untuk berpisah dengan Asep, dan membuka lembaran baru bersama Wawan, mengukir kisah baru, menata masa depan sebagai satu keluarga bersama Wawan dan putri kecilnya.

Sepuluh tahun jalani rumah tangga, Ijah, Wawan, dan Hani putri kesayangan mereka kerap membuat iri siapapun yang melihat keharmonisan yang dipertontonkannya. Bagaimana Wawan begitu perhatian pada Ijah dan Hani, apapun akan dilakukan Wawan untuk kebahagiaan dua perempuan istimewa dalam hidupnya itu.Segala hasil kerja kerasnya semua diserahkan pada Ijah, semua harta hasil cucuran keringatnya Wawan persembahkan hanya bagi Ijah, semua atas nama Ijah. Karena bagi Wawan Ijah dan Hani lah hartanya yang paling berharga.

Sepuluh tahun bersama, Wawan berhasil membentuk Ijah menjadi sosok wanita yang mandiri, hingga Ijah kini telah memiliki usaha sendiri, Wawan selalu mendukungnya baik secara moril maupun materil. Wawan ingin Ijah menjadi wanita tangguh yang selalu siap berjuang demi meraih kebahagiaannya dalam kondisi apapun.

Hani pun kini telah menjelang remaja, dia begitu menyayangi Wawan, pria yang dikenalnya sebagai ayah, sosok ayah yang senantiasa hadir disampingnya, menyiraminya dengan cinta dan kasih sayang. Hani tidak mengenal Asep, tak ada Asep dalam memorinya, mungkin karena dulu Hani masih sangat kecil ketika berpisah dengan Asep, lagipula tak pernah sekalipun Asep sekedar bertanya mencari tahu kabar putrinya, jangankan menemuinya.

Demikian pula Ijah, selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi keluarga kecilnya. Pelayanan terbaik dipersembahkan bagi suami tercinta, Ijah senantiasa berusaha tampak sempurna di mata Wawan, menjadikan dirinya sebagai teman diskusi yang baik, pendamping yang menentramkan, istri yang membahagiakan.Ijah terlalu mencintai Wawan, tak pernah sanggup membayangkan bagaimana hidupnya tanpa Wawan.

Jauh di lubuk hati Ijah sebenarnya begitu gelisah, sepuluh tahun pernikahannya namun buah cinta yang dinanti-nantikan tak kunjung tiba. Segala ikhtiar telah dicoba, mulai dari konsumsi aneka herbal hingga menjalani program yang dianjurkan dokter. Namun apa boleh buat, manusia hanya berupaya, ketetapan Allah jualah yang menentukannya.

************************

Hingga suatu siang saat Ijah hendak menelpon Wawan yang tengah bekerja, Ijah mendapati suara percakapan di handphone yang tengah diraihnya. Oh… rupanya Wawan lupa menutup telponnya setelah mereka bercakap-cakap tadi. Ya, memang kebiasaan Ijah dan Wawan untuk senantiasa saling menyapa saat mereka tidak bersama, itulah cara mereka memupuk dan menjaga rasa cinta agar senantiasa bersemi, bermekaran di hati.

Percakapan antara Wawan dengan seorang anak kecil, siapakah gerangan bocah kecil itu?. Ah…. tidak, tidak mungkin, pasti ada penjelasannya, bocah itu bisa siapa saja, Ijah tak ingin suudzon pada suami tercinta. Ijah mencoba menenangkankan hatinya, positif thinking, itu yang harus dilakukannya. Namun tak mampu dipungkiri hati Ijah kini galau, pikirannya melayang tak tentu arah, mencoba menerka-nerka siapa sebenarnya bocah kecil tadi. Ah…. sudahlah, lebih baik Ijah menanyakan langsung pada Wawan, dia tak mau menyiksa diri dengan pikiran-pikiran negatif yang berkelebatan riuh di benaknya.

***********************

Wajah Wawan menunduk seraya menangis terduduk. Ditatapnya wajah wanita tercinta yang tampak tengah terluka, menangis….. mereka sama-sama menangis.
Bagai disengat kalajengking, pengakuan Wawan membuat hati Ijah terasa panas dengan rasa sakit yang menggigit. Ternyata pendengaran Ijah tidak salah, bocah tadi benar-benar memanggil suaminya ‘ayah’.

Apa yang paling ditakutkannya kini terjadi, Wawan sang pujaan hati kini bukan hanya miliknya lagi, cintanya telah terbagi. Ada wanita lain dalam hidupnya, seorang wanita yang telah memberikan apa yang begitu diimpikannya.

“Ayah cuma cinta sama bunda, ayah cuma sayang sama bunda. Ayah gak pernah mau kehilangan bunda, ayah nggak bisa hidup tanpa bunda. Ayah nggak cinta sama Mimin bun, percayalah….” hangat bulir airmata Wawan membasahi bahu Ijah, dekapannya begitu kuat mewakili ketakutannya akan kehilangan Ijah tercinta. Ijah hanya terdiam, pikirannya kosong, hatinya kopong.

Jika untaian kata cinta Wawan biasanya bagai rangkaian kuntum bunga yang semerbak mewangi, kini bagi Ijah hanyalah percikan air comberan yang aromanya begitu menyesakkan.

-bersambung-

#tantanganodop3
#tantangan4kata
#matahari_galau_kalajengking_comberan

Advertisements

4 thoughts on “Sebut Saja Namanya Ijah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s