“Jangan lupa bawain oleh-oleh ya!” pesan Reina pada Yuda melalui video call di smartphonenya.

“Tar, kalo ada sisa duit. Oleh-oleh apa? cireng ya? hahaha…” jawab Yuda diikuti tawanya.

“Ogah ah, lo mah tawarannya ga jauh dari cireng ma cimol aja, yang kerenan dikit napa?” balas Reina sambil sedikit memonyongkan bibirnya.

“Dah jelek makin jelek aja kalo monyong-monyong gitu Ren,” ejek Yoga dengan mencibir.

“Tenang, kali ini gua bakal kasih oleh-oleh yang istimewa buat lo Ren, biar lo inget gue terus, sekalian buat hadiah ultah lo nanti, biar irit.” Yuda nyengir memamerkan deretan gigi putihnya yang berderet rapi.

“Wah…. tumben Yud, ga lagi kesambet lo kan? hahaha…. mimpi apa gue, Yuda Raspati inget ultah gue? pake mau kasih kado istimewa segala lagi. Perasaan gue jadi ga enak nih, musti waspada kayaknya gue sama otak jahil lo.” Reina mengernyitkan dahinya, menatap wajah Yuda dalam-dalam, berusaha menyelami rencana apa yang ada di benak Yuda sebenarnya.

Yuda pun tertawa melihat tingkah sahabatnya, yang mulai galau memikirkan surprise yang tengah direncanakannya.

Percakapan mereka pun berlanjut sekitar 30 menit ke muka, disisipi canda dan tawa renyah mereka bersama.

**********************

Yuda yang tengah mudik bersama keluarganya di liburan sekolah ini, memang tidak pernah alpa menghubungi sahabatnya, sekadar untuk bercerita pengalamannya di kampung halaman. Mulai dari cerita bangun terlambat, masak nasi goreng buat sang adik, ketemuan sama teman SD, apapun dia ceritakan. Sampai hal remeh temeh seperti makanan kucing eyangnya yang sudah habis, semua selalu dia bagikan ceritanya pada Reina.

Reina dengan setia mendengarkan. Tak mau kalah  Reina pun akan balik menceritakan segala pengalamannya setiap hari pada Yuda. Percakapan hangat dua sahabat yang senantiasa diselingi canda, untuk kemudian mereka tertawa bersama.

Ya, Reina dan Yuda memang sangat kompak, mereka bagaikan lalapan dan sambalnya, kalau tidak ada salah satunya ya nggak asik, nggak seru…

Reina si anak tunggal memang sering merasa kesepian di rumah, untuk itu kehadiran Yuda sangat berarti untuknya. Teman-teman banyak yang mengira mereka berpacaran, hihi…. Reina sampai bingung sendiri, kenapa orang-orang sulit percaya pada hubungan persahabatan antara laki-laki dan perempuan.

Reina yang manja, namun sedikit galak merasa nyaman bersahabat dengan Yuda, cowok super cuek yang penampilannya agak slengean dan jahilnya kebangetan, namun berhati lembut dan sangat perhatian. Satu lagi poin plus yang dimiliki Yuda, walaupun penampilannya slengean namun itu tidak mampu menyembunyikan ketampanan alami, bawaan lahir dari wajahnya.

*************************

Hari ini Yuda akan kembali dari kota kelahirannya, semakin deg-degan Reina mencoba menerka-nerka apa yang direncanakan oleh sahabatnya itu, untuk diberikan di hari ulang tahunnya besok.

Apapun itu, sesungguhnya Reina merasa bahagia. Kejahilan apapun yang direncanakan Yuda, dia siap menerima, karena Reina tahu itu adalah bentuk perhatian Yuda padanya, sifat jahil memang sudah sangat lekat dengan diri Yuda. Ini artinya Reina harus waspada, untuk meminimalisir dampak negatif ulah cowok jahil itu atas dirinya.

Teringat salah satu kejahilan Yuda di kelas dulu. Waktu itu tas ransel Reina tiba-tiba tidak ada di mejanya, sekembali Reina dari kantin. Reina sibuk mencari kemana-mana, sementara Yuda hanya senyum-senyum saja memperhatikan, teman-teman lain yang sedari tadi ada di kelas seolah menikmati pertunjukan kejahilan Yuda, sehingga mereka hanya menjadi penonton yang turut berbahagia melihat kesibukan Reina mencari-cari tasnya.

Tak berhasil menemukan Reina pun pasang wajah ngambek, sambil ngomel-ngomel pada Yuda, dan Yuda pun menyerah, ditunjukannya dimana tas ransel itu berada. Oh… rupanya dia memindahkan tas Reina ke kolong meja Atri, salah satu teman sekelas Reina yang terkenal sangat pendiam dan pemalu. Pantas saja, kalau Atri kan tidak akan berkomentar apapun, dia sejak tadi hanya duduk diam memperhatikan, sambil tersenyum-senyum di tempat duduknya.

Reina segera mengambil kembali tas itu, ditariknya dari kolong meja Atri sambil tetap ngomel-ngomel pada Yuda yang masih cekikikan bersama teman-teman yang lain. Dalam kegondokannya Reina lupa permisi pada Atri si pemilik meja, “ah… biarlah toh saat ini Atri pun seolah sekongkol dengan Yuda,” begitu pikir Reina.

Namun entah mengapa tawa teman-temannya semakin menjadi-jadi, mereka tergelak, seolah Reina tengah berkomedi. ‘Hei ada apakah ini?’ Reina memandang berkeliling

“Ihhh kenapa sih? kalian nyebelin tau! Ada apa? Yuda, awas lo ya!” pekik Reina sambil mengacungkan tinjunya ke arah Yuda.

“Reina, itu tas saya.” Tiba-tiba Atri sudah berdiri di belakang Reina sambil memandanginya.

“Hah? punya kamu Tri?” balas Reina sambil mengangkat tas ransel yang tengah dijinjingnya, kemudian menempatkan tas itu tepat di depan mata untuk memastikan.

“Iya Rei, itu ada pin nya yang punya saya.” Atri berusaha menjelaskan sambil menunjuk ke arah pin yang menempel di tas itu. Dan benar saja, tas itu memang persis dengan milik Reina, baik warna maupun modelnya, tapi jelas bukan miliknya setelah dilihat dengan seksama.

“Oh iya, maap, maap, ya Tri. Ga tau, kirain punya gue. Si Yuda tuh ngerjain… asem!!!” terang Reina seraya menyodorkan tas itu kepada Atri, sambil menahan malu. Sementara ruangan kelas itu kini membahana dipenuhi oleh tawa teman-teman atas kekonyolan dirinya.

“Itu, tas Reina disembunyikan di balik tempat sampah depan kelas.” Atri menjelaskan sambil menahan senyum.

Reina bergegas ke luar kelas untuk mengambil tasnya, kemudian kembali ke kelas. Matanya berputar liar mencari sosok Yuda untuk segera dijadikan sasaran kepalan tangannya. Tampak Yuda sudah berpindah posisi, berusaha menyelamatkan diri dari serangan Reina, Reina pun menghampirinya, namun Yuda segera berlari ke luar kelas dan kejar-kejaran diantara mereka pun tak terelakan

Akhirnya sebagai permintaan maaf Yuda, hari itu Reina ditraktir Yuda makan bakso pangsit di perempatan dekat sekolah dan diantar pulang ke rumahnya.

*************************

Reina tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadian itu, “hu uh dasar si Yuda,” bisik hatinya. Mata Reina melirik smartphone yang membisu di atas kasur. Sedari tadi Yuda belum menghubungi dia seperti biasanya.

“Hmmmm….. mungkin ini bagian dari rencana surprise anak itu,” begitu pikir Reina.

“Ah, lebih baik menyiapkan mental untuk menerima surprise Yuda di hari ulang tahunnya besok, daripada  menantikan sapaannya di smartphone,” begitu pikir Reina.

Hingga malam hari, wajah Yuda tak kunjung mucul di layar smartphonenya. Sapaan melalui chat media sosial pun tak ada. Hati Reina mulai gelisah, terasa ada yang kurang dalam harinya, ternyata sapaan Yuda begitu berarti untuknya.

Rasanya begitu berbeda ketika Yuda tidak muncul mengisi harinya, akhirnya Reina merasa tak tahan lagi untuk tidak mulai menyapa Yuda melalui media sosial favorit mereka.

“Yud, jadi balik hari ini?”
“awas jangan lupa hadiah ultah gue, yang bagus ya!”
“yang mahalan dikit.”
3 kalimat sudah dikirimkan Reina kepada Yuda, tapi belum ada jawaban.

Pandangan Reina tak lepas dari layar smartphone, mencoba untuk terus mengamati status pesannya kepada Yuda.
“Sudah terkirim, tapi kenapa masih belum dibaca?” Reina semakin gelisah, hingga akhirnya dia tertidur dengan smartphone di tangannya.

*****************

Lagu Umbrella milik Rihanna dari smartphone membangunkan Reina dari tidurnya. Ditatapnya layar smartphone, dan hati Reina girang, nama Yuda terpampang di situ.
Reina menatap jam dinding di kamarnya, waktu menunjukan pukul 03.30.

“Hmmm…. ada-ada aja ni anak, bener-bener mau ngerjain gue nih,” pikir Reina, namun tak dapat dipungkiri hatinya merasa senang, karena akhirnya orang yang ditunggu-tunggu menghubungi juga.

“Halo… Yud, ngapain sih nelpon jam segini?” Reina mengangkat telponnya, berlagak protes.

“Halo…. Kak Reina, ini Yuri adiknya Kak Yuda.” Jawab seorang anak perempuan di seberang sana.

“Oh…. iya maaf, Yuri, ada apa?”

“Kak Reina, Yuri mau mengabarkan kalau Kak Yuda meninggal, kecelakaan.”
Tubuh Reina seketika terasa lemas, smartphonenya terlepas dari genggaman, Reina tak ingin mempercayai. Ini tidak mungkin….. ini tidak mungkinnnnn.

Reina coba menenangkan diri, smartphone kembali diraihnya kemudian ditempelkan di telinga. Kini hanya terdengar suara isak tangis milik Yuri dari seberang.

“Yuri, Yuda kecelakaan dimana? kenapa?” Reina mencoba bertanya pada Yuri, ingin mengetahui yang sebenarnya terjadi.

“Kak Yuda kecelakaan dalam perjalanan pulang dari rumah Tante Rina, dia boncengan sama Kak Heri sepupu kami. Kepala Kak Yuda cidera parah, sehingga tak tertolong. Kak Heri masih di rumah sakit.” Yuri coba menjelaskan diantara isak tangisnya.

Kini Reina benar-benar lemas, hatinya terasa sakiiiit sesakit sakitnya, air mata tak tertahankan lagi, dihempaskan wajahnya ke bantal, Reina hanya mampu menumpahkan segala rasa sakit dan sesak di hatinya melalui hujan airmata.

*****************

Sebuah lukisan kini tergantung di dinding kamar Reina. Lukisan yang diberikan Yuri padanya sepulang dari pemakaman Yuda.
Lukisan sebagai hadiah ulang Tahun Yuda untuknya, lukisan hasil goresan tangan Yuda sendiri.

“Tenang, kali ini gua bakal kasih oleh-oleh yang istimewa buat lo Ren, biar lo inget gue terus.” terngiang kembali penggalan kalimat Yuda dalam percakapan terakhir mereka.

“Pasti Yud, aku pasti akan selalu mengingatmu.” Lirih suara Reina dengan berurai air mata.

Advertisements

6 thoughts on “Kejutan Tak Terlupakan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s