Aku terlahir ke dunia ini atas kehendak Sang Pencipta, bukan aku yang meminta. Ibu merawatku hanya sampai aku cukup usia tuk mampu berjuang sendiri. Karena masih ada adik-adik yang harus diurusi.

Hidup memang tak mudah bagi kami. Di alam semesta yang luas ini, mestinya ada hak kami sekedar tuk mengisi perut ini. Bukankah Tuhan ciptakan semesta tuk seluruh makhluk ciptaannya? Namun mengapa kini, dunia seolah hanya milik mereka sendiri? manusia rakus yang merasa sebagai penguasa bumi.

Saat perut kami merintih perih, kami berharap mendapatkan belas kasih dari orang-orang yang kami temui. Jackpot terbesar bagi kami, jika ada yang sudi berbagi rumahnya dengan kami.

Namun tak selalu harapan kami terpenuhi.

Ada kalanya mereka menatap kami dengan jijik, untuk kemudian mengusir kami. Tak jarang mereka mengusir dengan cara menyakiti, walau kami hanya mengais sampah sisa mereka sebagai sumber rejeki.

Kumohon, berilah kami sedikit belas kasih, sebagai sesama penghuni bumi, makhluk ciptaan Ilahi. Ikhlaskanlah kalian tuk berbagi, niscaya Allah yang kan mengganti.

Jikapun kalian tak ingin berbagi dengan kami, janganlah kami kalian sakiti. Walau sesekali kami terpaksa mencuri. Semua yang kami lakukan ini hanyalah sekedar mengikuti naluri, sebagai makhluk yang sedang berjuang untuk bertahan, di mana dengan sesamapun kami keras berkompetisi.

Meong…..

jalan_pasar_sukaramai

Advertisements

2 thoughts on “Kami yang Tersingkir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s