Begitu banyak kisah yang terlalui, tak hanya satu yang amat membekas di hati. Beberapa begitu berkesan karena kepedihannya, sebagian berkesan karena menghadirkan rasa bahagia, ada juga kisah lama yang masih menjadi teka teki. Semua memberi hikmah, tak ada yang tersia. Karena kuyakini apapun yang terjadi semua atas kehendak Illahi.

Begitulah manusia, Allah tempa keimanannya dengan berbagai cara. Suka dan duka kerap hadir memberikan warna sebagai bahan pembelajarannya.

p_20161002_234914_1

Adalah Kiki seorang ponakanku, dia adalah ponakan pertama. Begitu besar kepercayaan kakak sampai-sampai nama anak pertamanya pun dipercayakan padaku.
‘Farizlan Dzaky Haryanto’ itu nama yang kuberikan pada ponakan mungilku yang lucu, kami semua memanggilnya Kiki, si kecil tempat kami semua mencurahkan kasih sayang, cucu pertama bagi bapak, dan ponakan pertama bagi kami semua. Puaslah dia kami hujani dengan segala bentuk cinta, perhatian, dan kasih sayang.

Kiki tumbuh sebagai anak yang ceria, cerdas, dan percaya diri. Tingkahnya yang lucu menjadi pelipur kami. Kehadirannya selalu dirindukan, dia selalu menjadi rebutan, karena kehadirannya senantiasa menebarkan kebahagiaan dan keceriaan. Kenakalan kecil khas bocah darinya selalu menghibur dan menghadirkan tawa diantara kami.

Sampai suatu saat Kiki kecilku harus jauh dari kami, karena sang ayah ditugaskan ke lain kota. Kami semua amat kehilangan dirinya, namun jarak tak menyurutkan kami untuk menumpahkan kerinduan pada bocah kecil kesayangan. Kami kerap mengunjunginya bergantian, ayah, aku, dan adikku. Kedatangan kami selalu disambutnya dengan tawa kebahagian, ciuman, dan pelukannya. Begitupun kepulangan kami, selalu dihantarkan dengan tangis histerisnya tak mengizinkan kami pergi. Ah…. Kiki, kamu selalu jadi kesayangan kami.

Hingga dia memiliki seorang adik, dan kemudian aku memiliki anak, betapa dia tunjukan sifat welas asih pada adik-adiknya. Betapa dia begitu penyayang pada adik-adiknya. Dia tumbuh semakin besar, tubuhnya kini kurus dan semakin jangkung, tapi sifat ceria dan ngocolnya tidak berubah, masih selalu ngangenin.

Tak terasa, ponakan tersayang kini sudah remaja. Tiba masanya untuk melanjutkan pendidikan ke level Perguruan Tinggi, dan Bandung jadi kota pilihannya.  Minatnya pada segala sesuatu yang berbau budaya Jepang membuatnya memutuskan untuk memilih jurusan sastra jepang di salah satu PT swasta di Bandung. Cita-citanya begitu kuat untuk bisa tinggal dan berkarier di Negeri Sakura itu.

Kembali menjadi warga Bandung di usianya kini, menjadikannya lebih mandiri. Dia mampu buktikan bahwa dia sanggup memanage dirinya sendiri.
Sifat lembut, penyayang, dan santun tetap menjadi khas karakternya. Oleh-oleh kecil  sesekali dibawanya untuk adik-adik sepupu saat bertandang ke rumah kami. Tidak ketinggalan kucing kamipun dibawakan buah tangan, karena cowok jangkung ini adalah pecinta kucing.

Kehadiran seorang teman dekat semakin menambah motivasinya. Ya… mereka tengah bersama merajut mimpi tentang masa depan, dan yang mereka lakukan adalah bersaing dalam hal prestasi, pencapaian IP yang tinggi berhasil mereka buktikan. Sebuah hubungan yang indah yang mereka wujudkan dengan saling memotivasi untuk maeraih masa depan yang mereka impikan bersama.

Satu siang di hari Kamis, di tengah kesibukannya yang tengah mempersiapkan sebuah acara besar di kampusnya, berita kepergian kakek tercinta yang tengah terbaring di rumah sakit begitu mengejutkannya. Sosok kakek yang begitu disayangi dan dikaguminya telah tiada. Cita-citanya untuk dapat membahagiakan kakek tersayang dengan hasil keringatnya suatu saat nanti menjadi hal yang mustahil untuk diwujudkan. Hatinya sedih… tak sanggup lagi tuk membendung airmata, itulah kali pertama dirinya merasakan sakitnya kehilangan seseorang yang tersayang. Hanya 2 hari setelah genap 20 tahun usianya.

Sosok kakek begitu dekat dengan dirinya, sejak bayi kakek selalu ada untuknya, kakek turut merawatnya, kakek selalu hadir di saat-saat spesial nya, kakek selalu hadir kapan pun dia membutuhkannya, ya… kakek saja, karena  nenek telah lama tiada, bahkan Kiki pun belum sempat mengenalnya.

Hampir 3 bulan berlalu sejak kepergian kakek tercinta. Idul Fitri pun akan segera tiba, tentu akan sangat berbeda rasanya. Lagipula memang sudah sejak lama mama dan papanya merencanakan lebaran tahun ini di tanah kelahiran sang papa, Bengkulu. Namun memang belakangan kakakku mulai bimbang karena bapak sedang sakit saat itu.
Tentunya Allah yang sudah mengatur semua, keberatan kakakku semula untuk mudik Bengkulu karena sakitnya bapak, kini sudah tidak menjadi beban pikirannya lagi.

Berangkatlah Kiki bersama adik perempuannya sehari lebih dulu dengan pesawat, karena keluarga di sana sudah rindu lama tak bertemu.
Mama dan papanya menyusul keesokan harinya dengan mobil bersama seorang keponakanku.

Sementara menanti mama, papa, dan sepupunya tiba, mereka melepas rindu dengan sanak keluarga, berjalan-jalan ke pantai menikmati suasana. Gelak tawa  dan canda menghiasi kebersamaan mereka, melukiskan kerinduan yang telah lama tersimpan.

Mama, papa, dan sepupunya tiba di hari Ramadhan terakhir, setelah melepas lelah cuaca panas menggoda mereka untuk bermain air ke sungai. Di penghujung Ramadhan, sungai ramai pengunjung yang tengah menunggu beduk maghrib, untuk berbuka puasa terakhir sebelum lebaran.
Asik bermain-main air, bercanda bersama sepupu-sepupu kecilnya, tiba-tiba kedua sepupu kecil hampir terhanyut, semua panik dan coba selamatkan dua sepupu kecil itu, begitupula Kiki.

Namun dalam upayanya dia tak menyadari jika dirinya terus begeser ke area rawan, hingga dia pun harus berjuang untuk dirinya sendiri untuk bisa tetap bertahan di permukaan. Derasnya arus dan pijakan yang rapuh dan curam akibat bekas kerukan semakin menggoyahkan pertahanannya, kepanikan membuat arus semakin berjaya atas tubuhnya. Tak ada yang menyadari saat itu.

Di kejauhan sang mama melihat lambaian kedua tangannya, dengan kepala yang masih timbul tenggelam. Beberapa berlari coba menyelamatkan, namun mereka tak mampu karena Kiki sudah masuk area rawan, mereka terus berupaya, namun Kiki sulit diraih. Dan akhirnya Kiki pun hilang di kedalaman sungai beberapa saat jelang adzan maghrib berkumandang.

Beberapa jam kemudian Kiki baru dapat ditemukan, namun nyawanya sudah tak terselamatkan. Seiring gema takbir berkumandang, di penghujung Ramadhan Kiki yang kami sayangi telah kembali menghadap pemiliknya yang sejati.
Duka kehilangan bapak tersayang masih menyelimuti keluarga kami. Ketika hati kami masih bergumul lara, kembali sebuah berita kepergian menghentak segenap jiwa. Apalah daya kami? hidup dan mati adalah kuasa Ilahi.

Tak dapat kubayangkan hancurnya perasaan kakakku, kehilangan sang qurrota a’yunnya. Namun inilah takdir, yang tak dapat dihindari. Allah Maha berkehendak, Allah Maha kuasa.
Kematian adalah hal pasti yang hadirnya menjadi misteri. Belia usia, sehat raga, takkan mampu urungkan ajal menyapa. Ketika tiba masanya Izroil menjemput ruh dari raga, semua semata-mata atas perintah-Nya. Segala yang terjadi yakinilah sebagai terbaik yang telah ditetapkan Allah atas hamba-hambanya, meskipun terasa sakit dan pahit, pastilah ada hikmah di sana. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui Kebaikan bagi setiap hamba-Nya.

Demikian pula dengan Kiki, betapa Allah begitu mencintainya, hingga Allah telah tetapkan hari dan cara kembali yang terbaik baginya. Keyakinan inilah yang akhirnya kembali menguatkan kakak dan iparku, serta kami semua.

Dalam suasana duka yang masih menyelimuti, satu persatu berita baik bagi almarhum (yang mungkin tengah dinanti-nantinya) sampai pada kami. Salah satunya berita bahwa almarhum merupakan salah satu mahasiswa yang terpilih untuk program pertukaran pelajar ke Jepang, mewakili kampusnya nanti. Seorang dosen mengabarkannya pada kami saat takziyah.
Subhanallah…. bahkan ketika impian untuk menginjakkan kaki di Negeri Sakura hampir diraihnya.

Selamat jalan Kiki ponakanku sayang, siapa sangka kau pergi dalam usia yang masih begitu belia, saat kau tengah bergelora raih cita dan cinta.  Masa depan yang tengah kau tata tertanggalkan semua, karena masamu telah tiba.

Seiring gema takbir sambut hari nan fitri, kembali kami ikhlaskan seorang tercinta pergi. Namun kami yakin Allah telah mempersiapkan tempat yang jauh lebih indah untukmu di sana. Segala kenangan manis yang pernah kau goreskan bersama kami, kan selalu kami simpan sebagai salah satu kenangan terindah yang takan terhapus oleh waktu.

**************************

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.”
(QS. Al-‘A`raf [7] : 34)

#tantanganodop1

Advertisements

2 thoughts on “Misteri di Penghujung Ramadhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s