Sekitar 3 minggu yang lalu sepulang dari pasar, aku bertemu kakek ini. Dia tengah duduk beristirahat di pinggir jalan bersama dagangannya. Aku merasa iba melihat tubuhnya yang sudah renta masih harus berkeliling sambil memikul singkong jualannya untuk ditawarkan. Padahal di usianya ini idealnya kakek ini tinggal duduk santai menikmati hari tuanya. Tapi ya…. begitulah, garis kehidupan setiap orang berbeda – beda, meleleh hati ini melihatnya.

Kuhampiri kakek itu sambil menanyakan harga singkong yang dijualnya.
“Sabaraha pa sampeuna (Berapa pak, singkongnya)?”

“6000 neng sakilo. Sok atos we 5000 neng lah.”
Si kakek memberitahukan harga singkongnya, yang segera disusul dengan memberikan harga diskon tanpa diminta, seolah-olah takut calon pembelinya tak jadi bertransaksi dengan dirinya.

“Meser sakilo we pa (beli sekilo aja pa).” jawabku.
Aku sendiri belum tau mau dibuat apa singkong ini, sementara kresek – kresek belanjaankupun sudah berjejalan menggelayuti kedua tanganku, yang sukses membuat urat-urat tanganku bertonjolan.

“Oh…. sakilo wae neng (Oh… sekilo aja neng)?”
Tanya si kakek memastikan.

“Muhun Pak (Iya Pak).” Jawabku.

Kemudian si kakek pun menimbang singkongnya, dan memasukannya ke dalam kresek, lalu ia mengambil kembali 2 buah singkongnya dan ditambahkan ke dalam kresek singkongku.

“Eh, naha ditambihan deui pa (eh, kenapa ditambahin lagi pak)?” Tanyaku

“Wios, teu nanaon neng eta mah tambihna.(ga apa-apa neng, itu tambahnya)”
Jawab kakek itu sambil tersenyum. Senyum yang begitu tulus….

Subhanallah…. dengan penghasilannya yang tidak seberapa, ternyata sama sekali tidak mengurangi kebesaran hati kakek ini untuk tetap memberikan kebahagiaan pada orang lain. Setelah memberikan potongan harga, masih memberikan tambahan singkong, padahal belanjaanku tidak seberapa.

Mampu berbagi tampaknya membuat kakek ini merasa bahagia, ini terpancar dari senyum di wajahnya saat dia memberikan tambahan singkongnya untukku.

Di sisi lain ada manusia – manusia yang tidak pernah merasa cukup dengan kelimpahan hartanya, terus berambisi untuk menumpuk hartanya, terkadang demi ambisinya itu mereka sampai lupa jika yang mereka ambil adalah hak orang lain, mereka terkena serangan amnesia mendadak. Astaghfirullah….. kondisi yang begitu kontras.

Selesai berbelanja akupun merogoh beberapa lembar uang dari dompetku, kususun, lipat, kemudian kusodorkan padanya. Akupun segera berlalu ditemani gelayutan mesra kresek-kresek belanjaan di tanganku.

Semoga apa yang kulakukan tidak membuatnya tersinggung, aku juga berhak untuk berbagi, seperti juga kakek itu. Dan aku juga berhak membalas kebaikan dan kemurahan hatinya kan???

img1475219591506

Qodarullah kemarin si kakek lewat ke depan rumah seperti biasa dengan memikul singkong dagangannya. Akupun memanggilnya.

Di kali kedua ini aku penasaran ingin mengetahui berapa usia kakek ini.

“Yuswa sabaraha Pa (Usia berapa pa)?”

“75 neng. Ah da abdi mah jalmi teu gaduh janten nya kieu we… neng”
(75 neng. Ah da saya mah orang tak punya jadi ya gini aja…. neng)
Jawab si kakek sambil tersenyum dan menikmati rokok di sela jemarinya.

“Linggih dimana (tinggal dimana)?” Tanyaku lagi.

“Di golp neng, mapah we…. kukurilingan dugi ka dieu.”
(Di golf neng, jalan aja…. keliling-keliling sampe ke sini)
Jawabnya sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya, tak  nampak kemuraman sedikitpun di antara keriput di wajahnya. Senyum selalu terselip di bibirnya, diantara kata yang diucapkannya.

Kalau ditarik garis lurus dengan google map mungkin hanya sekitar 2,5KM jarak dari sekitar tempat tinggal kakek ini samapai rumahku, namun perjalanan yang harus ditempuh sebenarnya dilalui dengan jalan yang berkelok dan naik turun.

Masyaallah….. di usianya yang sudah 75 tahun ini beliau masih sanggup berjalan kaki sejauh itu dengan memikul beban yang tidak ringan, dan beliau perokok pulak.
Luar biasa, Allah Maha Adil, sementara banyak kakek sebaya beliau yang berkecukupan harta namun mungkin saat ini tengah masanya untuk bolak balik kontrol ke dokter, memeriksakan penyakitnya, jangankan untuk berjalan kaki jauh apalagi ditambah dengan memikul beban seberat itu.

Banyak hikmah yang bisa dipetik dari perjuangan hidup dan keikhlasan kakek ini menjalaninya. Demikianlah Allah bekerja dengan caraNya, menunjukkan kasih sayangNya, melalui nikmat dan ujian yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan hambanya.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Advertisements

One thought on “Nikmat Tuhanmu yang Manakah yang Kamu Dustakan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s