sarung-tinju-merah

“Kiri!”
Seru Dito ketika angkot yang ditumpanginya sudah sampai di depan pertigaan menuju rumahnya. Bergegas Dito berjalan menuju rumah dengan perasaan bahagia, karena Dito punya kebahagiaan yang ingin dibagi dengan keluarga tersayang di rumah.

“Assalamu’alaykum…”
Tangan Dito segera menggerakkan gagang pintu dan membukanya, tampak Doni yang sedang asik bermain game di meja komputer, dia hanya menoleh pada abangnya sambil menjawab perlahan “Wa’alaykumsalam”

Ah bukan saat yang tepat buat bercerita pada Doni saat ini. Dia lagi fokus dengan gamenya, mata Dito mencari sosok mama karena Dito yakin mama akan senang mendengarnya. Dito sudah tak sabar ingin berbagi kebahagiaan ini.

“Wa’alaykumsalam…. baru pulang Dit?” terdengar suara mama dari ruang tengah, tanpa membuka sepatunya Ditopun segera menghampiri Mama
“Ma, kata Pak Anwar tadi Dito disuruh ikut turnamen tgl 28 nanti.”
Dengan wajah berseri Dito bercerita pada Mama.

“Oh ya? bukannya Dito baru 2minggu ikut latihan, masak sudah diikutkan turnamen lagi.”
Tanya Mama sambil mengamati sulung kesayangannya yang wajahnya dihiasi keringat namun tak nampak kelelahan di wajah itu, wajahnya ceria berseri-seri.

“Iya ma, tadi kan Dito main lawan senior, dan Dito berhasil ngalahin. Kata Pak Anwar main Dito bagus, malah si Kang Rendy yang Dito lawan juga ngedukung banget Dito ikut turnamen mewakili sekolah.”
Terang Dito dengan bersemangat.

“Ya udah, latihan yang bagus. Kan masih ada waktu 18 hari lagi, persiapan yang bener ya ! Nasihat Mama.

“Iya Ma, makanya sekarang Dito pulang telat juga, kan latihannya ditambah.”
Jawab Dito sambil mulai melepas sepatunya.

Papa yang sedari diam dan duduk di depan laptopnya, tiba2 bersuara
“Turnamen apa?”

“Tinju” Jawab Dito.

“Tinju? buat apa kamu ikut tinju? itu olahraga berbahaya, yang jadi sasaran adalah kepala. Papa ga setuju.”
Kata Papa sambil menatap tajam.

“Memang kenapa pa? Papa juga dulu ikut taekwondo, ga masalah. Sekarang Dito lagi suka tinju, kenapa dilarang?”
Balas Dito sedikit sengit.
“Karena itu bahaya, bisa bikin cedera area kepala, otak, dampaknya bisa seumur hidup.”
Papa pun tak mau kalah dengan semakin meninggikan suaranya.

“Pa… Makanya kita latihan, itu kan untuk belajar teknik yang benar.Lagipula Dito nanti juga masih main di kelas amatir, yang lawan-lawannya juga selevel sama Dito kemampuannya.”
Jawab Dito bersikukuh.

“Dengar ya, kalau sampai ada apa-apa orang tua juga yang susah, itu bisa jadi penyesalan seumur hidup.”
Dengan volume suaranya yang semakin tinggi dan mata yang menyorot tajam seolah-olah Papa berusaha memerintahkan supaya kata-katanya tidak dibantah lagi.

Kebahagiaan yang dioleh-olehkan Dito sepulang latihan tadi rupanya tidak disambut gembira semua anggota keluarga, Papa yang kepala suku di keluarga ini justru menjadi yang paling tidak berbahagia.

Wajah Dito yang tadi cerah berseri-seri, kini tampak muram, sorot matanya penuh kegalauan. Dito pun masuk kamar dan  merebahkan tubuhnya di atas kasur, menatap langit-langit dengan perasaan galau. Hanya dalam sekejap saja kebahagiaanya terenggut oleh keberatan papa untuk olahraga yang baru ditekuninya itu.

Terdengar suara mama dan papa dari ruang tengah, adu argumen antara mama yang ingin memberikan kesempatan pada Dito untuk bereksplorasi seluas-luasnya untuk menggali potensi diri. Dan Papa yang begitu khawatir hal buruk akan terjadi pada Dito.

***********

Berulangkali mama meminta Dito untuk mengerti, bahwa papa melakukan semua ini tak lain karena cinta, karena sayangnya pada diri Dito.

“Yah…. tentu saja aku tahu itu, tapi jujur saja aku tidak nyaman dengan caranya menyayangiku. Aku anak laki-laki, seharusnya papa membiarkan aku berkembang, mencoba hal-hal baru, membiarkanku tumbuh dan belajar dari pengalaman.”
Hati kecil Dito bergumam.

“Aku adalah anak laki-laki, aku bukan dirinya, aku adalah aku, aku lelah selalu didikte, diperlakukan seperti anak kecil, padahal tahun depan aku sudah berhak buat KTP. Aarrghh…. Papa, plis mengertilah….”
Dalam hati kecilnya Dito merasa ingin berteriak.

Dan Dito pun memutuskan untuk terus melanjutkan apa yang baru saja dimulainya,
“Aku anak laki – laki, toh mama sudah merestui. Aku harus belajar membuat keputusan untuk diriku sendiri.”
Bisik hati Dito, dalam pergumulannya dengan kegalauan yang tengah dirasakan saat ini.

Ditopun terus berlatih, semangat untuk mempersembahkan yang terbaik untuk mereka yang telah percaya padanya dan selalu mendukungnya.

Keringat mengucur deras di sekujur tubuh Dito, tenggorokan yang kering memerintahkan tangan Dito untuk mengambil botol minuman yang isinya tinggal 1/4 lagi dari dalam tas ranselnya.

“Glek…glek…glek….” Dito menumpahkan seluruh sisa minuman di botolnya ke dalam mulutnya.

“Dit, jangan lupa besok penimbangan ya!” kita  kumpul aja dulu di sekolah, Kang Rendy mengingatkan Dito, sambil duduk di sampingnya.

“Iya Kang.”
“Ayo Dit, semangat ya! Mudah-mudahan kamu nanti bisa menang, kita do’ain. Kita juga bakal nonton buat suporterin kamu”
Farel teman sekelas Dito mencoba menyemangati, sambil menepuk bahu Dito.

“Thanks bro.”
Jawab Dito sambil tersenyum.

“Yuk balik!”
Merekapun beriringan keluar gerbang sekolah, dan berpisah di pertigaan jalan menuju ke arah rumah masing-masing.

Sepanjang perjalanan pulang hati Dito gelisah, saat turnamen semakin dekat, namun restu Papa tak kunjung didapat. Andaikan saja Papa merestuinya, tentu Dito akan merasa sangat bahagia, menjalani ini semua dengan restu kedua orang tua.

Dito belum pernah memiliki prestasi yang unggul di bidang apapun, selama ini Dito hanya berada di garis rata-rata, yang biasa-biasa saja. Namun mengapa ketika kesempatan itu ada di depan mata, Papa seolah bersiap menjegalnya?

Ya, walaupun Dito tetap bertekad menjalaninya, tapi sejujurnya hati Dito telah kecewa, sedih….. Papa tak mampu mengeti bahwa ini adalah satu kesempatan besar baginya. Jika orang-orang percaya akan kemampuan dirinya, mengapa Papa tidak??? untunglah ada Mama yang bisa mengerti dan selalu siap mendukung anak-anaknya. Dan Dito ingin mempersembahkan suatu kebanggaan pada Mama di turnamen nanti, semoga Allah meridhoi.

Tak terasa angkot yang ditumpanginya telah sampai, Dito pun turun dan seperti biasa melanjutkan perjalanan ke rumah dengan berjalan kaki.

Sesampainya di rumah, Dito pun segera menghampiri Mama dan Doni yang tengah santai mengobrol, Dito pun memberitahukan jadwal penimbangan besok, dan menceritakan suasana latihan tadi.

Doni dan Mama menyimaknya dengan antusias, sesekali diselingi candaan Doni yang memperagakan gaya petinju dengan gaya konyolnya.

“Ya udah, sana makan dulu, apa mau mandi dulu? Jangan dulu tidur sebelum isya ya!”
Nasihat khas mama yang Dito sudah sangat hafal kata-katanya.

************

Para atlit telah berkumpul, Dito pun menunggu gilirannya untuk ditimbang. Sambil menunggu giliran, Dito bercakap-cakap dengan Pak Anwar dan 2 orang temannya yang sama-sama akan bertanding mewakili sekolah besok. Pak  Anwar memberikan nasihat kepada semua anak didiknya, mengingatkan tentang pentingnya sportifitas.

Pandangan Dito sesekali tertuju kepada orang-orang yang berlalu lalang di hadapannya, sambil mengira-ngira yang manakah kemungkinan yang akan menjadi lawan tandingnya besok.

Tiba giliran Dito ditimbang….
“67 Kg”
Pak Anwar menghampiri salah satu panitia, kemudian mereka bercakap-cakap sambil sesekali melihat-lihat lembaran kertas yang terletak di atas meja panitia.

Setelah semua yang akan bertanding mewakili sekolah Dito mendapat giliran ditimbang, merekapun pulang. Di perjalanan mereka mampir dulu ke salah satu tempat makan untuk mengisi perutnya yang mulai keroncongan.

Pak Anwar terus menyemangati anak-anak didiknya yang akan bertanding besok, mereka diingatkan untuk cukup istirahat agar besok bertanding dalam kondisi fit.

***************

Hari yang dinantikan tiba…..
Seperti biasa Mama membangunkan Dito untuk segera bersiap-siap, ini hari besarnya, Dito tidak mau semua jadi berantakan karena dirinya kesiangan.
Dito pun bergegas bangkit dari tempat tidurnya, kemudian mandi, shalat, dan sarapan.
Sambil sarapan Mama terus mendampingi dan menyemangati Dito. Mama pun mengingatkan agar Dito tetap meminta restu Papa.

Semua persiapan sudah selesai, tinggal 1 hal yang harus dilakukan sebelum menuju arena pertandingan, pamit dan minta restu orang tua. Ini adalah hari besarku, saat yang aku nanti-nantikan, betapa restu kedua orang tua adalah hal yang utama diatas segala persiapanku lainnya.

“Ma, pamit. Do’ain Dito ya!” Kata Dito sambil mencium punggung tangan mamanya.
“Iya, hati-hati ya sayang. Kabari Mama kalo dah sampai, jadwal mainnya jam berapa? mama mau nonton.”

Kemudian mata mama berkedip sambil melirik ke arah Papa yang sedang duduk, mengingatkan Dito untuk meminta do’a dan restu Papa.

Sambil menarik nafas panjang, dito melangkah menghampiri Papa
“Pa, Dito pamit. Do’ain Dito ya Pa!”
Pamit Dito sambil meraih tangan Papa untuk diciumnya.

“Mau kemana?” Tanya Papa sambil memperhatikan Dito yang sudah menggendong tas ranselnya.

“Pertandingan pa.” Dito menjawab dengan hati bergemuruh.

“Pertandingan apa?” Tanya Papa lagi.

“Tinju.” jawab Dito dengan perasaan tak menentu.

Wajah Papa langsung berubah, menatap Dito dengan rasa marah.
“Papa sudah bilang kamu jangan ikut tinju, masih aja kamu ikutin. Mana mau turnamen pulak. ”
Papa pun langsung menarik tangannya dari tangan Dito.

“Tapi Pa, Dito sudah ditunggu. Dito sudah didaftarkan buat mewakili sekolah. Dito cuma minta do’a Papa.”
Kata Dito coba meluluhkan hati Papa, dan kembali coba meraih tangannya.

Tapi Papa menghentakkan tangannya, dia tidak mengijinkan Dito untuk menciumnya.
“Pokoknya Papa gak setuju, kalau ada apa-apa sama kamu Papa akan tuntut pelatih kamu, Mama kamu juga.”
Suara Papa semakin lantang menggambarkan kekesalan hatinya, tatapannya bagai seekor elang yang siap menerkam Dito.

Sebelum Dito kembali menjawab, Mama memberikan isyarat dengan matanya agar Dito tidak mejawab lagi kata-kata Papa.
Dito pun pergi, sambil mengucapkan salam untuk orang-orang tersayangnya di rumah.
“Assalamu’alaykum.”

“Wa’alaykumsalam.” Terdengar jawaban Mama, hanya Mama.
Dito pun pergi menuju medan laga dengan perasaan campur aduk, sedih dan kecewa kini turut menghiasi hatinya yang tengah berdebar-debar menantikan saat yang di nanti-nantikannya.

*****************

Dengan gelisah Mama menantikan kabar dari Dito, Mama sudah bersiap-siap akan ke sasana untuk menyaksikan sulung kesayangannya tengah betanding.

Tak berapa lama suara ringtone dari Hp mama pun berbunyi, nampak di display nama Dito sang penelpon. Segera Mama mengangkat handphonenya.

“Halo sayang, gimana? main jam berapa?” Tanya Mama yang sudah tidak sabar menunggu kabar dari sulungnya.

“Dito ga main Ma, gak ada lawan di kelas Dito.” Jawab Dito lirih.

“Owhhh….ya sudah ga apa-apa. Yakin aja ini yang terbaik yang sudah Allah tentukan buat kamu sayang.” Mama coba menghibur Dito.

“Iya Ma, udah dulu ya, Dito mau nonton yang bertanding aja sekarang.”
Balas Dito dari seberang telepon, kemudian Ditopun menutup telponnya.

Betapa ingin Mama menghibur Dito sambil memeluknya, Mama dapat membayangkan bagaimana perasaan Dito saat ini, setelah Dito bersikukuh untuk tetap membuktikan sesuatu dengan tidak mengindahkan kekhawatiran papa, ketika Dito baru saja melihat satu jalan terang menuju sebuah keberhasilan untuknya, tiba-tiba jalan itu menjadi gelap dan buntu. Betapa ingin Mama berada di samping Dito saat ini, mendampinginya, menghiburnya.  Tapi Mama yakin Dito tersayangnya pasti bisa menghadapi ini, Dito bukan anak yang cengeng.

Kemudian Mama kembali meraih handphonenya, dan mengetikkan pesan untuk Dito. Ya… mungkin ini bisa sedikit menenangkan dan menghibur Dito, walaupun Mama tidak di sampingnya, semoga ini cukup mewakili kehadiran mama untuk saat ini.

“Sayang….  Allah telah menunjukkan bahwa ridho Allah bergantung ridho orang tua. Yakinlah, Allah punya rencana yang lebih baik untukmu. Namun apapun adanya kamu, Mama Papa selalu menyayangimu.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s