Masih senyum-senyum sendiri inget kejadian tadi.

Baruuuu saja temen pulang dari rumahku. Ketika datang ke rumah tadi dia menggunakan jasa ojek online, begitu pula ketika mau pulang kembali order ojek via aplikasi online.
Berhubung rumahku masuk gang, maka janjianlah temenku itu dengan sang gojek driver di depan mesjid yang terletak di mulut gang.

Tak berapa lama muncullah seorang bapak mengendarai motor dengan membawa 2 helm menghampiri kami, kami sudah menduga kalo bapak ini adalah driver Gojek.
“Gojek?”
“Iya mba. Mba Desi? Sukagalih?”
“Bukan, Ratna, ITB.””Oh…. orderan saya Sukagalih. Mesjid Al-Barkah yang mana ya mba?”
“Iya ini.” Jawab kami sambil menunjuk mesjid tepat di belakang kami ini.
Dan si Bapak gojek pun mengambil beberapa meter jarak dari kami untuk menunggu pelanggannya.

Menit ke menit gojek yang ditunggu belum kunjung tiba. Jalanan di depan kami mulai macet, karena memang jalan ini sering dijadikan jalan alternatif ketika jalan utama sedang macet atau untuk memotong jalan.

Diantara deretan pengemudi motor tampak seorang bapak dengan 2 helm yang kami duga sebagai gojek driver, mata kamipun langsung fokus tertuju padanya dengan wajah ramah. Dan si bapak pun menuju ke arah kami, kami pun tersenyum sambil bertanya
“gojek? ITB?”
“Boleh, mari diantar.”
Jawab si bapak dengan wajah sumringah sambil menyodorkan helm yang dibawanya.

Usia si bapak ini kalau dari fisiknya nampak seperti kisaran 60an, 60 lebih sepertinya.
Mendengar jawaban si bapak kami agak bingung, maka kami ulangi lagi pertanyaan kami.
“Bapak gojek? yang mau ke ITB?”
Dan si bapak pun menjawab dengan jawaban yang yang sama.
“Boleh, mari diantar.”
Tampak satu gigi depannya yang hitam dari senyumnya, dan masih seperti tadi dia kembali menyodorkan helm bersticker hello kitty yang dibawanya.

Kami merasa jawabannya janggal, apalagi ketika melihat ke arah kaki si bapak yang hanya mengenakan sandal. Sementara driver gojek biasa berpenampilan rapih, paling tidak kakinya dibungkus sepatu.
Aku mulai illfeel sama si bapak ini, kucoba bertanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih tegas.
“Bapak gojek bukan? kita lagi nunggu gojek.”
Kataku sambil mulai pasang wajah galak. Si bapak hanya menjawab dengan seringainya.
” Kalau bukan gojek ga mauuu.”
Akhirnya si bapak tua itu kembali menggantungkan helmnya dan berlalu sambil tersenyum.

Tak pelak lagi aku dan temanku berpandangan sambil tertawa. Antara sebal dan merasa konyol melihat tingkah bapak tua yang masih ‘usaha’ ini.
Kamipun beristighfar bersama sambil geleng- geleng kepala, ngomel-ngomel sebel sama tingkah si bapak. Kok bisa-bisanya ya?
Entahlah apapun misi si bapak tua itu, apakah dia ‘usaha’ hanya sekedar untuk bisa ambil alih orderan, atau ‘usaha’ buat bisa bonceng wanita yang jauh lebih muda dari dirinya. Entahlah….

Maaf kalau aku jadi suudzon ya pak, soalnya aku penduduk sini dan kenal wajah-wajah para opang di sini.
Lagi pula cara bapak itu yang membuatku berfikiran jelek sama bapak, karena bila bapak orang baik-baik dan jujur sekalipun bapak adalah opang pasti bapak akan jawab kalau bapak bukan gojek, walaupun kemudian bapak menawarkan jasa bapak ya silahkan, dan itu masih lebih kita hargai. Karena sudah bisa dipastikan kalau misinya untuk mencari tambahan rejeki.
Lah…. cara bapak seperti itu ya kami jadi wediiiii (takut)

Setelah si bapak penyamar itu berlalu kami lihat driver gojek yang tadi tengah menunggu penumpangnya masih di tempat yang sama, dan dia sejak tadi tampak sibuk dengan smartphonenya.
Tak berapa lama diapun berbalik menuju ke arah kami, dan menghampiri.
“Mbak Ratna, maaf, jadi gini loh… gojeknya mba tadi sudah kesini, dan dia bawa penumpang saya, sekarang sudah diantarnya ke ITB. Dia gak tanya-tanya dulu.”
“Jadi sekarang mba Ratna saya antar ke ITB saja, nanti bayarnya sama dia.”

Oalahhhh…. rupanya si mas gojek pesanan temen saya salah bawa penumpang.
Dan teman saya hampiiiiiirrrr saja dibonceng aki-aki usaha.
“Hahaha….. rejekimu na, hampir dibocengin aki-aki”
“Rejeki buat dia, musibah buat akuuuu.” jawab temanku sambil tertawa.
Dan temanku pun melaju di atas boncengan gojek driver yang sebenarnya.

oesman

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s